Total Tayangan Halaman

Kamis, 22 Desember 2011

UNIVERSITAS AL-AZHAR ASY-SYARIF


(Telaah Sejarah Karya Terbesar Dinasti Fathimiyah Di Mesir)


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perjalanan panjang Al-Azhar yang kini jelang usia 1000 tahun lebih memang menarik disimak. Sejak dibangun pertama kali pada 29 Jumada al-Ula 359 H (970 M.) oleh panglima Jauhar ash-Shiqilli lalu dibuka resmi dan shalat Jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H., lembaga besar yang mulanya sebuah masjid ini bagai tak pernah lelah membidani kelahiran para ulama’ dan cendekiawan muslim. “Masjid sekaligus institusi pendidikan tertua,” itulah penghargaan sejarah buatnya.[1]

Saat ini al-Azhar merupakan universitas tertua di dunia yang telah banyak mengeluarkan ulama ternama diantaranya; Muhammad 'Abduh, Jamaluudin Al-Afghani, Yusuf Qardhawi, begitu juga dengan pakar tafsir kita Prof. DR. Quraish Syihab. Masa keemasan Al-Azhar terjadi pada abad 9 H/15 M. Banyak ilmuwan dan ulama Islam bermunculan di al-Azhar saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Al-Farisi, As-Suyuthi, Al-'Aini, Al-Khawi, Abdul Latif Al-Baghdadi, Ibnu Khaliqan, Al-Maqrizi dan lainnya yang telah banyak mewariskan banyak ensiklopedi Arab. Usia seribu tahun lebih tentu saja banyak mengalami dinamika dan romantika. Walau uzur namun Al-Azhar tetap menjadi pavorit dan masih bisa dijadikan kiblat ilmu-ilmu Islam saat ini. Hal itu dapat dilihat dari antusiasnya para tholibul 'ilmi dari penjuru dunia berdatangan ke negeri kinanah. Untuk wilayah Timur Tengah, rating tertinggi pelajar tanah air masih didominasi Mesir dengan universitas Al-Azharnya.[2]

Menurut data Atase Pendidikan Dan Kebudayaan KBRI-Cairo, jumlah mahasiswa al-Azhar saat ini kurang lebih 439.152 orang[3], diantara jumlah tersebut ada sekitar 3000-an lebih mahasiswa Indonesia yang belajar di Mesir, namun masih kalah jauh bila dibandingkan negara tetangga kita, Malaysia. Ada sekitar 7000-an lebih pelajar Malaysia di sini. Hal itu tidak mengherankan karena negara mereka memberikan dukungan moril dan materi kepada anak bangsanya. Pelajar Malaysia diberikan beasiswa pinjaman selama studi di sini.[4] Berbeda dengan pemerintah kita, yang terkesan mempersulit birokrasi studi ke Al-Azhar. Padahal idealnya negara kita yang berpenduduk 220 juta lebih, lebih membutuhkan banyak ulama yang terjun di tanah air. Namun, jangan berkecil hati, walaupun sedikit, prestasi akademi anak Indonesia begitu menggembirakan bila dibandingkan dengan mereka. Mungkin karena hidup yang tidak terlalu berlebihan, lebih memacu semangat belajar yang giat.


B. Rumusan Masalah
1. Bilamana Dinasti Fathimiyah menguasai Mesir?
2. Bagaimana sejarah berdirinya Universitas al-Azhar?
3. Bagaimana perkembangan dan dinamika Universitas al-Azhar?

C. Tujuan Pembahasan
Pembahasan makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan proses penguasaan Dinasti Fathimiyah terhadap Mesir dan sejarah berdirinya Universitas al-Azhar beserta perkembangan dan dinamikanya.




II. PEMBAHASAN

A. Dinasti Fathimiyah Menguasai Mesir

Dinasti Fathimiyah didirikan oleh Ubaidillah al-Mahdi, cucu Ismail Ja’far al-Shidiq pada tahun 297 H./909 M di negeri Maghrib (sekitar Maroko sekarang) dengan Qairawan sebagai ibu kota negaranya. Nama dinasti ini dinisbatkan kepada puteri Rasulullah Fathimah al-Zahra’, istri Ali bin Abi Thalib. Pusat pemerintahan semula berada di Tunisia dengan ibukota Quraiwan (909-971M), kemudian pindah ke Kairo Mesir (972-1171M). dinasti ini merupakan dinasti Syiah Ismailiyah[5] yang pertama kali lahir, diiringi lahirnya Dinasti Buwaih (932M0 di Baghdad, dan belakangan Kerajaan Safawi (1501 M) di Persia.[6]

Seiringan dengan berkembangnya kekuasaan Fathimiyah di sekitar daerah Maghrib, timbul cita-cita besar Khalifah al-Mahdi untuk menjadikan dinastinya sebagai pemegang kekuasaan di dunia Islam kala itu sekaligus menyebarkan mazhab Syi’ah isma’iliyah yang dipakai di kalangan Fathimiyah. Keinginan ini tentunya hanya bisa terwujud jika sanggup menaklukkan Daulah Abbasiyah di kawasan timur negeri Islam (sekitar Baghdad) yang saat itu memegang kontrol di sebagian besar daerah-daerah Islam.[7]

Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, al-Mahdi segera mengatur rencana dan sebagai terget awal adalah bagaimana menguasai kawasan Hijaz (Makkah dan Madinah) dan Syam (sekitar Syiria sekarang). Menaklukkan dua kawasan tersebut tidaklah mudah, setidaknya ada dua penghalang yang dapat menggagalkan rencana khalifah Fathimiyah al-Mahdi. Pertama dari sisi pengaruh politik, kawasan Hijaz dan Syam saat itu berada dalam pengaruh kuat Ikhsyidiyah yang berpusat di Mesir. Kedua dari sisi geografis, negeri Mesir yang menjadi pusat daulah Ikhsyidiyah adalah negeri Abbasiyah pertama yang berbatasan langsung dengan kekuasaan Fathimiyah dan berada di antara negeri Maghrib dan kawasan Hijaz dan Syam, maka dengan demikian posisi Maghrib sangat tidak menguntungkan sekali secara politik dan militer jika mereka langsung melakukang penyerangan ke Hijaz dan Syam. Dengan mempertimbangkan tersebut mereka memastikan bahwa mereka memang perlu menaklukkan Mesir dan Ikhsyidiyah yang memiliki posisi geografis lebih menguntungan secara politik dan militer.[8]

Keinginan khalifah al-Mahdi untuk menaklukkan Mesir tidak dapat dibendung lagi, tiga kali penyerangan dilancarkan, serangan pertama dilancarkan pada tahun 301 H/913 M. Namun serangan tersebut menemui kegagalan. Kemudian pada tahun 307 H./919 M ia kembali mengadakan penyerangan, sayang hasilnya tetap nihil. Lalu pada tahun 321 H/933 M ia mengirim pasukan untuk yang ketiga kalinya, usaha ini terus dilanjutkan sampai masa anaknya al-Qaim Biamrillah diangkat menjaid khalifah kedua Fathimiyah, namun hasilnya juga belum memuaskan, bahkan di sisa-sisa masa jabatan al-Qaim, ia lebih sibuk mengurusi gejolak-gejolak yang terjadi di dalam negerinya, sehingga kegiatan agresi militer ke Mesir mengalami kevakuman. Keadaan seperti ini terus berlanjut di sepanjang masa pemerintahan khalifah ketiga Bani Fathimiyah, al-Mansur Binasrillah (334 H.-341 H./945 M.-952 M.).[9]

Kondisi dalam negeri membaik ketika khalifah keempat, al-Muiz Lidinillah, naik tahta di akhir tahun 341 H./953 M. Seluruh suku bangsa Barbar yang sebelumnya membangkang dapat “dijinakkan” saat itu, kemudian Bani Idrisiyah yang memberontak dan ingin melepaskan diri dapat juga ditaklukkan. Keberhasilan dari sisi internal ini ternyata menjadikan kekuasaan Daulah Fathimiyah meluas, membentang dari barat Tripoli (Libiya sekarang) disebelah timur sampai Samudera Atlantik di sebelah barat. Ketika itulah keinginan untuk menguasai Mesir kembali muncul. Keinginan ini juga diperkuat dengan beberapa alasan-alasan baru, di antaranya[10]:

1.      Meninggalnya Kafur al-Ikhsyidi tahun 357 H./968 M. yang merupakan wali Mesir sejak dua tahun sebelumnya.
2.      Terjadinya krisis ekonomi di Mesir. Berkali-kali terjadi banjir di Mesir selama kurun sembilan tahun yang menyebabkan lahan pertanian menjadi sempit dan otomatis harga bahan pangan menjadi mahal serta diikuti dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga terjadilah bencana kelaparan di Mesir dan menyebarnya wabah penyakit di kalangan penduduk Mesir.
3.      Kekacauan di bidang ekonomi ini merembes ke bidang militer, dimana terjadi perpecahan antara pemimpin-pemimpin militer negara. Situasi ini menambah kemarahan publik terhadap penguasa saat itu berlipat ganda.
4.      Sekelompok golongan ekstrim Syi’ah yang disebut Qaramithah terus berusaha mengerogoti kawasan timur Mesir, dan kebetulan sekali beberapa anggota kelompok ini memiliki hubungan baik dengan Dinsti Fathimiyah.




Awalnya golongan Qaramithah inilah yang melakukan gencaran ke Mesir sehingga muncul kecemasan di kalangan publik, dalam kondisi tidak menentu ini sejumlah orang Fathimiyah telah bermain di dalam masyarakat Mesir untuk misi propaganda dan pengendalian opini publik agar mereka siap dengan masuknya penguasa baru di Mesir. Di lain pihak Abbasiyah di Baghdad tidak sangup mengirim pasukannya untuk mengatasi krisis di Mesir.Dengan memperhatikan kondisi internal dan eksternal yang demikian maka khalifah al-Muiz memberanikan diri meneruskan cita-cita pendahulunya yang belum menuai hasil maksimal.

Selanjutnya khalifah Fathimiyah, al-Muiz li Dinillah, menyerahkan tanggung jawab penaklukan Mesir kepada panglima perangnya Jauhar ash-Shiqli yang sebelumnya berhasil meluaskan kekuasaan Fathimiyah sampai ke pantai Samudera Atlantik (barat Maroko sekarang). Untuk penyerangan kali ini al-Muiz menyiapkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar dengan menempatkan seratus ribu pasukan berkuda di dalamnya. Sepertinya khalifah al-Muiz tidak ingin mengulangi kekalahan yang diderita pada tiga agresi sebelumnya.

Sebelum pengiriman pasukan dimulai, al-Muiz melakukan serangkaian persiapan-persiapan untuk menunjang kelancaran serangan ini, diantaranya pembangunan jalan dan jalur-jalur penghubung ke Mesir, penggalian sumur-sumur, pendirian tempat-tempat istirahat dan tidak lupa pendanaan dalam skala besar. Di saat semua persiapan dirasa cukup maka mulailah khalifah al-Muiz melepas kepergian pasukannya di bawah komando panglima Jauhar ash-Shiqli pada 14 Rabi’ul Akhir 358 H./7 Maret 969 M.

Pasca beberapa seremonial pelepasan, berangkatlah pasukan besar itu menuju arah Mesir. Dan ketika al-Muiz kembali ke istananya, ia mengirimkan pakaian kebesarannya yang baru saja dipakai dalam seremonial tadi kepada Jauhar as-Shiqli kecuali cincin khalifahnya. Setelah beberapa hari perjalanan, Jauhar dan pasukannya masuk Mesir melalui Iskandariyah (Alexandria). Ketika berita ini sampai di Fusthat, Ja’far al-Furat (menteri Mesir) dan orang-orangnya mengajukan permohonan perlindungan keamanan. Pada 18 Rajab 358 H mereka menyusun sebuah pertemuan dengan pihak Jauhar. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang menyatakan bahwa Jauhar akan memberikan keamanan dan kedatangannya ke Mesir adalah dalam rangka perbaikan serta tidak memaksakan mazhab Syi’ah pada masyarakat Mesir yang Sunni. Ternyata fakta di lapangan berkata lain, sebagian besar tentara Mesir tidak setuju dengan nota kesepakatan tersebut, sehingga terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan pasukan mesir yang tidak setuju.

Pada sore 17 Sya’ba 358 H./6 Juli 969 M. Jauhar ash-Shiqli beserta pasukannya masuk bagian kota Mesir yang kala itu mencakup kawasan Fusthat dan ‘Askar. Dan Jauhar mengambil sebuah tempat luas yang berposisi menghadap kedua kota tersebut sebagai markas pasukannya, tempat itu disebut Munakh. Dengan masuknya pasukan Dinasti Fathimiyah ke Mesir berarti berakhirlah masa pendudukan Mesir di bawah kekuasaan Ikhsyidiyah dan Abbasiyah, dan mulailah Mesir memasuki babak baru di bawah kekuasaan Dinasti Fathimiyah.[11]

Sebagaimana tradisi kaum muslimin sebelumnya, maka setelah berhasil menduduki Mesir, Jauhar segera mendirikan sebuah kota sebagai lambang kekuatan sekaligus kemenangan sisi politik dan militer Daulah Fathimiyah atas Daulah Abbasiyah di Mesir. Bahkan ketika itu Jauhar menghapuskan dan melarang pemakaian semua simbol-simbol Abbasiyah.

Kota tersebut dinamai oleh Jauhar ash-Shiqli dengan Mansuriyah, mengambil nama khalifah Fathimiyah ketiga yang merupakan orang tua khalifah al-Muiz sendiri. Mungkin Jauhar ingin kedudukannya di mata al-Muiz semakin tingi dengan menamai kota baru mereka dengan nama orang tua Sang Khalifah. Nama ini terus dipakai selama empat tahun, sampai di saat kedatangan khalifah al-Muiz ke Mesir ia menggantinya dengan nama al-Qahirah atau yang lebih kita kenal dengan Kairo.

Al-Qahirah atau al-Qahir sendiri dalam bahasa arab berarti yang perkasa atau kuat, konon sebab penamaan kota ini demikian karena al-Muiz sendiri adalah seorang yang cenderung optimistik. Pemilihan nama itupun sebenarnya telah muncul di benak al-Muiz semenjak ia berada di negeri Maghrib, bahkan sebelum Jauhar ash-Shiqli beserta pasukannya melangkah menuju negeri baru ini, tepatnya ketika ia menyampaikan pidato pelepasan pasukan:” demi Allah, walaupun Jauhar ini berangkat seorang diri saja niscaya Mesir akan dapat ditundukkan juga, ia akan memasuki Mesir tanpa peperangan, kemudian menetap di reruntuhan Ibnu Touloun dan medirikan sebuah kota bernama al-Qahirah (yang perkasa) yang akan menaklukkan dunia…”.[12]

Prof. Ahmad Hasan al-Baquri, mantan rektor Universitas al-Azhar, pernah menyebutkan alasan lain pemilihan nama al-Qahirah:” …ketika Presiden Jamal Abdul Naser berada di kota Qairawan, beliau mengunjungi sebuah masjid di sana yang bangunannya mirip dengan bangunan al-Azhar dan di sampingnya terdapat sebuah ruangan. Teman-teman dekatnya memberitahu bahwa dahulu ruangan itu adalah tempat penyimpanan harta dan senjata, dan mereka dulu menamakan ruangan tersebut dengan al-Qahirah. Dengan nama inilah dinamai kota al-Qahirah (Kairo) setelah Fathimiyah menaklukkan negeri Mesir, tambah mereka.”[13]

Di lain riwayat disebutkan juga bahwa yang menamai kota ini dengan al-Qahirah bukan Khalifah namun Jauhar sendiri terinspirasi dari planet Mars, yang menurut ahli bintang/falak masa lalu merupakan raja planet/bintang (qahirul falak). Karena menurut riwayat ini ketika pembangunan kota akan dimulai, para ahli bintang mengelilingi pondasi kota dengan tali dan pada tali itu digantungkanlah lonceng-lonceng, kemudian mereka mulai menunggu bintang yang muncul, di saat itulah hinggap burung di atas tali tadi yang menyebabkan lonceng-lonceng tersebut berbunyi dan mereka mendapati bintang kejora (planet mars) telah muncul di ufuk, maka mulailah para pekerja mengayunkan tangan-tangan mereka, mulai membangun kota itu, dan kemudian dinamailah kota itu dengan al-Qahirah.[14]

Terlepas dari beragam versi di atas, di beberapa kesempatan nama al-Qahirah juga biasa disebut al-Qahirah al-Muiziyah dengan menisbahkan nama khalifah al-Muiz kepadanya, atau al-Qahirah al-Mahrusah karena dinding pagarnya yang tinggi dan pintu-pintunya yang besar.
Dari segi posisi, kota al-Qahirah ini terletak di sebelah timur Fusthat, berbentuk persegi empat yang panjang sisinya 1200 meter dan dikelilingi oleh pagar yang besar. Waktu itu ia mencakup daerah al-Azhar, Gamaliyah, Husainiyah, Babu asy-Sya’riyah, Moski, Ghouriyah dan Bab al-Khalq.

Di sisi timur pagar kota, tepatnya di tempat yang dijadikan Jauhar sebagai markas pasukannya, dibangun juga sebuah istana untuk khalifah al-Muiz. Disekitar kawasan inilah berpusat pemerintahan Fathimiyah kala itu, di sana juga dibangun gudang-gudang senjata.
Namun, di masa-masa awalnya Kairo belumlah menjadi sebuah ibu kota melainkan hanya kumpulan dari istana-istana besar, Jami’ al-Azhar, barak-barak militer dan pemukiman kabilah-kabilah dari Maghrib. Sementara itu Fusthat yang berada di pinggir Nil masih berfungsi sebagai pusat perdagangan dan selalu setia meyambut kedatangan kapal-kapal Nil dari daerah-daerah selatan yang mengangkut hasil-hasil pertanian, ia juga masih menjadi kota terbesar bagi para pencari kerja dan pencari ilmu & pengetahuan.

Maka dengan berdirinya al-Qahirah atau Kairo berarti ia adalah kota Islam keempat yang didirikan dalam selang waktu 338 tahun sejak Amru bin Ash mendirikan kota Fusthat tahun 20 H. Sejarah ini telah menjadikan jejak-jejak kebesaran tiga kota sebelumnya terhapus sedangkan Kairo tetap kokoh sampai saat ini sebagai ibu kota Mesir dan kota terbesar dalam dunia Islam-selain Istambul ketika menjadi ibu kota Dinasti Utsmani- serta menjadi pusat perkembangan peradaban dari sisi agama, pemikiran dan pengetahuan dalam dunia Islam dan Arab khususnya.


B. Sejarah Berdirinya Universitas al-Azhar
Sudah menjadi suatu kaedah tak tertulis bahwa peradaban Islam di suatu daerah selau dikaitkan dengan peran masjid jami' (masjid negara) di kawasan tersebut. Hal ini mungkin diilhami dari kerja nyata Rasulullah saw ketika hijrah kemadinah, tugas pertama yang yang beliau lakukan adalah membangun Masjid. Ini menandakan peran masjid yang tidak hanya terbatas dengan kegiatan ritual semata. Tapi lebih dari itu, masjid adalah sentral pemerintahan Islam, sarana pendidikan, mahkamah, tempat mengeluarkan fatwa, dan sebagainya.Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh 'Amru bin 'Ash ketika menguasai wilayah Mesir. Atas perintah Khalifah Umar, Panglima Amru bin 'Ash mendirikan masjid pertama di Afrika yang kemudian dinamakan Masjid 'Amru bin 'Ash di kota Fushtath, sekaligus menjadi pusat pemerintahan Islam Mesir pada waktu itu. Selanjutnya dimasa Dinasti Abbasiyah, ibu kota pemerintahan ini berpindah lagi ke kota yang di sebut al-Qatha'i dan ditandai dengan pembangunan sebuah masjid bernama Ahmad bin Thoulun.[15]

Masa demi masa berlalu, pemerintahanpun silih berganti hingga tiba era Daulah Fathimiyah di Mesir. Ibukota Mesir pun berpindah ke daerah baru atas perintah Khalifah al-Mu'iz Lidinillah yang menugasi panglimanya, Jauhar ash-Shiqili[16], untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah melalui tahap pembangunan, daerah ini dinamai kota al-Qahirah.[17]
Sebagaimana sejarah Islam masa lalu, setiap berganti daulah selalu di tandai dengan pembangunan masjid di pusat ibukota. Sehingga kurang setahun kemudian, beriringan dengan pembangunan kota al-Qahirah didirikan pula sebuah masjid bernama jami' al-Qahirah (meniru nama ibu kota). Seluruhnya masih dalam penanganan panglima Jauhar Ash-shiqili. Pada masa khalifah al-Aziz Billah[18], sekeliling Jami' al-Qahirah dibangun beberapa istana yang disebut al-Qushur az-Zahirah. Istana-istana ini sebagian besar berada di sebelah timur (kini sebelah barat Husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil di sebelah barat (dekat masjid al-Azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah taman nan indah. Keseluruhan daerah ini dikenal sengan sebutan "Madinatul Fathimiyin al- Mulukiyah". kondisi sekitar yang begitu indah dan bercahaya ini mendorong orang menyebut Jami' al-Qahirah dengan sebutan baru, jami' Al-Azhar (berasal dari kata zahra' artinya: yang bersinar, bercahaya, berkilauan).[19]
Masjid besar al-Azhar inilah yang kemudian menjadi pusat kajian keislaman hingga saat ini. Sebagaimana telah penulis uraikan di atas, perjalanan panjang Al-Azhar yang dibangun pertama kali pada 29 Jumada al-Ula 359 H (970 M.) oleh panglima Jauhar ash-Shiqilli lalu dibuka resmi dan shalat Jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H ini telah menjelma menjadi sebuah perguruan tinggi tertua dan terbesar hingga saat ini. Al-Azhar merupakan karya terbesar dari bangunan peradaban Islam yang dibangun Dinasti Fathimiyah di Mesir.
Dinasti Fathimiyah di Mesir dapat dikatakan mengungguli prestasi Bani Abbas di Baghdad dan bani umayyah di spanyol pada saat yang sama, terutama prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan (sains). Pengembangan sains saat itu bermula dari tradisi yang berhasil dirintis oleh khalifah al-Aziz. Ia adalah seorang sastrawan yang mempunyai perhatian besar dalam bidang sains, seperti al-Makmun di Bani Abbas. Tidak heran jika istana dijadikan sebagai pusat kegiatan keilmuan, tempat diskusi pada ulama, fuqaha, qurra’, nuhat, ahli hadits dan para pejabat yang ikut juga terlibat di dalamnya. Sebagian para pejabat dan pegawai terdiri dari para ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu.[20]

Al-Aziz memberi gaji yang besar kepada para pengajar, sehingga banyak ulama besar pindah dari baghdad ke Kairo. Al-Azhar dijadikan sebagai pusat studi ilmu-ilmu agama baik naqli maupun aqli. Di samping al-Azhar, pada tahun 1005 M al-Hakim[21] mendirikan Dar al-Hikmah sebagai pusat studi pada tingkat tinggi, sehingga di dalamnya dilakukan diskusi, penelitian, penulisan dan penerjemahan serta pendidikan.[22]

Para khalifah jauh-jauh hari menyadari bahwa kelanjutan al-Azhar tidak lepas dari segi pendanaannya. Oleh karena itu setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf bagi al-Azhar dipelopori oleh khalifah Al-hakim bin Amrillah, lalu diikuti oleh para khalifah berikutnya serta orang-orang kaya setempat dan seluruh dunia Islam sampai saat ini -harta wakaf tersebut kabarnya pernah mencapai sepertiga dari kekayaan mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan al-Azhar bisa terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama dan pengiriman utusan al-Azhar ke berbagai penjuru dunia. Dari Masjid 'Amru bin 'Ash dan Ahmad bin Thoulun, perlahan poros pendidikan berpindah ke al-Azhar.[23]


C. Perkembangan dan Dinamika Universitas al-Azhar
Sudah menjadi semacam perjanjian tak tertulis, pada setiap khalifah Daulah Fathimiyah selalu diadakan restorasi bangunan jami' Al-azhar. Hingga ketika gempa hebat sempat merusak al-azhar pada tahun 1303 M., Sultan An-Nashir yang memerintah saat itu segera merehab kembali bangunan masjid yang rusak. Ciri spesifik pemugaran bangunan mulai nampak pada masa Qansouh al-Ghouri (1509 M.)yang merestorasi satu menara Al-azhar nan indah dengan dua puncak (Manaratul Azhar Dzatu ar-Ra'sain). Penyempurnaan jami' al-azhar kembali dilanjutkan pada periode daulah Utsmani, dengan kegiatan renofasi yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya. Puncaknya dicapai pada masa Amir Abdurrahman Katakhda (wafat 1776 M.) dengan menambah dua buah menara, mengganti mihrab dan mimbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruaq sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo ruang tamu, terasa tak beratap dalam masjid, dan tangki air tempat berwudhu'. singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid al-azhar kini adalah hasil karya Amir tersebut.[24]



1. Fase Peralihan
Seiring gelombang pasang surut sejarah, berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan perannya dilembaga tertua ini. Selain sebagai masjid, proses penyebaran paham syi'ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan Dinasti Fhatimiyah. Khususnya dipenghujung masa Khalifah al-Mu'iz li dinillah ketika Qadhi Qudhah Abul Hasan Ali bin Nu'man Al-Qairuwani mengajarkan fiqh madzhab syi'ah dari kitab mukhtasar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid al-azhar pada bulan Shafar 365 Hijriah (Oktober 975 M.).
Sesudah itu proses belajar terus berlanjut dengan penekanan utama pada ilmu-ilmu agama dan bahasa, walaupun tanpa mengurangi perhatian terhadap ilmu manthiq, filsafat, kedokteran, dan ilmu falak sebagai tambahan yang diikutsertakan. Namun semenjak Shalahuddin al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (tahun 567 H/1171 M.), Al-azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternatif guna mengikis pengaruh syi'ah. Disinilah mulai dimasukan perubahan orientasi besar-besaran dari mazdhab syi'ah ke mazdhab sunni yang berlaku hingga sekarang.[25]
Penutupan sementara al-Azhar dilakukan pada jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih 98 tahun, yaitu sejak masa Shalahuddin al-Ayyubi hingga pemerintahan Dinasti Mamalik.[26]


2. Fase Reformasi Pembaharuan
Administrasi pertama al-Azhar dimulai pada masa pemerintahan sultan Ad-Dhahir Barquq (784 H. / 1382 M.) dimana ia mengangkat sultan Bahadir At-Thawasyi sebagai direktur pertama, ini terjadi dalam masa kekuasaan Mamalik si Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan Al-azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah. Sistem ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai Mesir di penghujung abad 11 H. Ditandai dengan pengangkataan "Syaikh Umumy" yang digelar dengan Syaikh Al-Azhar sebagai figur yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa, hukum, termasuk tempat mengadukan segala persoalan. pada fase ini terpilih syaikh Muhammad Al-khurasyi (1010-1101) H.) sebagai syaikh Al-azhar pertama. Secara keseluruhan ada 40 syaikh yang telah memimpin Al-azhar selama 43 periode, hingga kini dipegang oleh mantan mufti, Syaikh Muhammad Thantawi. Masa keemasan Al-azhar terjadi pada abad 9 H.(15 M.) banyak ilmuan dan ulama islam bermunculan di Al-azhar saat itu, seperti ibnu Khaldun, Al-farisi , As-suyuti, Al-'Aini, Al-Khawi, Abdul Latif AL-bagdadi, Ibnu Khalikqan, Al-Maqrizi dan lainnya yang telah mewariskan banyak ensiklopedi Arab. [27]

Iklim kemunduran kembali hadir ketika dinasti Utsmani berkuasa di Mesir (1517-1798 M.) Al-azhar mulai kurang berfungsi disertai kepulangan para ulama dan mahasiswa yang berangsur-angsur meninggalkan cairo. meski begitu tambahan berbagai bangunan tetap diupayakan atas prakarsa amir-amir Utsmani dan kaum muslimin sedunia.

Kepemimpinan Muhammad Ali Pasha di Mesir pada tahap selanjutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler. Ia juga berusaha menciutkan peranan Al-azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai badan waqaf Al-azhar yang merupakan urat nadinya. seterusnya, pada masa pemerintahan Khedive Ismail Pasha (1863- 1874) mulai diusahakan reorganisasi pendidikan, dan dari sinilah pendidikan tradisional mulai bersaing dengan pendidikan modern sekuler. Serangan terhadap pendidikan tradisional sering tampak dari usaha yang menginginkan perbaikan Al-azhar sebagai pusat pendidikan islam terpenting.Sejak awal abad 19, sistim pendidikan barat mulai diterapkan di sekolah-sekolah Mesir. Sementara Al-azhar masih saja menggunakan sistim tradisional. dari sini mulai muncul suara pembaharuan.
Diantara pembaharuan yang menonjol adalah dicantumkannya sistem ujian untuk mendapatkan ijazah al-'alamiyah (kesarjanaan) Al-azhar pada februari 1872. juga pada tahun 1896, buat pertama kali dibentuk Idarah Al-azhar (dewan administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di Al-azhar menjadi dua periode: pendidikan dasar 8 tahun serta pendidikan menengah dan tinggi 12 tahun, kurikulum Al-azhar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: Al-'ulum al-manqulah (bidang studi agama)dan al-'ulum al-ma'qulah(studi umum). Menyebut pembaharuan di Al-azhar, kita perlu mengingat Muhammad Abduh (1849-1905). Ia mengusulkan perbaikan sistem pendidikan Al-azhar dengan memasukan ilmu-ilmu modern kedalam kurikulumnya. Gagasan terssebut mulanya kurang disepakati oleh syaikh Muhammad Al-Anbabi. Baru ketika syaikh An-Nawawi memimpin Al-azhar, ide Muhammad Abduh bisa berpengaruh, berangsur-angsur mulai diadakan pengaturan masa libur dan masa belajar. Uraian pelajaran yang bertele-tele yang dikenal syarah al- hawasyi disederhanakan. Sementara itu kurikulum modern seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi, dan sejarah. telah menerobos Al-azhar, berbarengan dengan ini pula di renovasi ruaq Al-azhar sebagai pemondokan bagi guru dan maha siswa.


3. Al-Azhar Kini
Pada abad XXI ini, Al-Azhar mulai memandang perlunya mempelajari sistem penelitian yang dilakukan universitas di barat, dan mengirim alumni terbaiknya untuk belajar ke eropa dan amerika. tujuan pengiriman itu adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiyah di tingkat international sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman islam yang benar. Cukup banyak duta Al-Azhar yang berhasil yang berhasil meraih gelar Ph.D dari universitas luar tersebut, diantaranya adalah syaikh DR. Abdul Halim Mahmud, syaikh DR. Muhammad AL-bahy, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sebelumnya, pada tahun 1930, keluar undang-undang nomor 49 yang mengatur Al-azhar mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dan membagi universitas Al-azhar menjadi 3 fakultas, yaitu: Syari'ah, ushuluddin, dan bahasa arab. Fakultas induk Ayari'ah wal Qanun (hukum international) di cairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930. semula bernama fakultas Syari'ah , lalu pada tahun 1961 dirubah menjadi nama seperti sekarang. Fakultas induk ushuluddin dan bahasa arab di cairo juga didirikan pada tahun 1930, penjurusannya diatur kembali pada tahun 1961. fakultas Da'wah islamiyah didirikan dengan keputusan presiden (keppres) nomor 380 tahun 1978 yang di keluarkan pada 16 Ramadhan 1398 H. bertepatan dengan 20 agustus 1978). Fakultas Dirasat islamiyah wal Arabiyah memulai kuliahnya tahun 1965 sebagai salah satu jurusan dari faklultas Syari'ah. pada tahun 1972 keluar keppres nomor 7 yang menjadikan fakultas ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama (Ma'had Dirasat Al-islamiyah wal Arabiyah (Institute of Islamic and Arabic Studies ). Namun, pada 1976 keluar keppres No: 299 yang kembali menjadikan institut ini sebagai fakultas tersendiri, dengan jurusan :Ushuluddin, Syari'ah islamiyah, Bahasa arab dan Sastra arab.[28]

Angin pembaharuan kembali berhembus di Al-azhar pada 5 Mei 1961 dimasa kepemimpinan syaikh Mahmud Syaltout. Peran Syaikh Al-azhar di ciutkan menjadi jembatan simbolis sehingga kurang mempunyai pengaruh langsung terhadap lembaga pendidikan yang berada di bawah pimpinanya. Undang-undang revolusi Mesir no:103 tahun 1961. undang-undang ini memberikan kemungkinan besar perubahan srtukturil pendidikan di Al-azhar, sehingga di antaranya membolehkan lulusan SD atau SMP Al-azhar untuk melanjutkan studinya ke SMP atau SMA milik departemaen pendidikan, atau sebaliknya. dalam ruang lingkup pendidikan tinggi, disamping fakultas-fakultas keislaman, ditambahkan lagi fakultas baru seperti: Tarbiyah, Kedokteran, Perdagangan, / ekonomi, sains, pertanian, teknik, farmasi, dan sebagainya. Juga dibangun khusus fakultas untuk mahasiswi (kuliyatul banat) dengan berbagai jurusan.
Al-Azhar mempunyai 3 Rumah Sakit Universitas: Husain Hospital, Zahra' Hosppital dan Bab el-Syari'ah Hospital. Sementara itu, Nasser Islamic Mission City untuk orang asing dibuka pada bulan september 1959.Universitas (jami'ah) al-azhar hanyalah sala satu lembaga resmi yang dimiliki Al-azhar, masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti[29]:

a. Lembaga pendidikan dasar dan menengah (Al-Ma'ahid Al-Azhariyah)
b. Biro kebudayaan dan missi Islam (Idarah Ast-Tsaqafah wal Bu'uts al-islamiyah)
c. Majlis tinggi Al-azhar (Majlis Al-a'la lil azhar)
d. Lembaga riset islam (Majma' Al-buhuts Al-islamiyah)
e. Hai'ah Ighatsah Al-islamiyah

Sejak mula berdirinya, studi di Al-azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia, Hingga kini Universitas Al-azhar memiliki lebih dari 50 fakultas yang tersebar di seluruh pelosok Mesir. Itulah potret Al-azhar yang tetap tegar dalam kurun usia senja.



D. Sekilah tentang kondisi Akademik Universitas al-Azhar
Sebagai universitas modern, al-Azhar turut membuka model kuliah yang diklasifikasikan dalam dua kelompok fakultas: Ilmi (sains) dan Adabi (agama).
Untuk fakultas-fakultas Adabi (agama), jenjang studi yang dibuka meliputi:

a. Undergraduate (Kulliyah atau S1 )
b. Postgraduate (Dirasah 'Ulya atau S2 dan S3)

Masa pendidikan resmi program Under Graduate (S1) selama 4 tahun (kecuali Fakultas Syari'ah jurusan Syari'ah wal Qonun menempuh masa 5 tahun). Sedangkan program Magister (S2) hanya menjalani studi hanya dua tahun saja, dan dilanjutkan dengan penulisan Tesis secara terpisah. Proses penerimaan mahasiswa program S2 di al-Azhar dilakukan melalui test hafalan Al-Qur'an 8 juz, sehingga kesempatan lebih terbuka, tanpa membedakan nilai akhir mahasiswa lulusan S1 (Lc.) Untuk pencapain gelar Doctor (S3), cukup dengan mengajukan desertasi.[30]
Pada tahapan program Under Graduate (S1), sistem yang diterapkan memang agak ketat. Agar bisa melanjutkan ke tingkat study berikutnya, mahasiswa harus menyelesaikan seluruh mata kuliah pada setiap tingkat, dan diperbolehkan memiliki maksimal dua sisa mata kuliah pada tingkat sebelumnya. Sementara bagi yang memiliki sisa mata kuliah lebih dari dua, terpaksa mengulang setahun lagi pada tingkat yang sama, khusus menyelesaikan mata kuliah yang tertinggal. Kecuali tingkat IV, mahasiswa diberi kesempatan ikut ujian tashfiyyah bagi yang tersisa dua mata kuliah. Jika pada ujian fase ini juga belum tuntas, maka diharuskan mengulang setahun lagi khusus dua atau satu mata kuliah sisa tersebut. Kesempatan mengulang study (i'adah) pada tingkat I dan II cuma diberikan dua kali (2 tahun) andai pada tahun ketiga belum lulus hingga batas maksimal, maka mahasiswa akan dikeluarkan (mafshul). Begitu pula untuk tingkat III, ada jatah “bernafas” 4 tahun.[31]

Diantara dispensasi yang diberikan al-Azhar terhadap fakultas keislaman ini ialah bebas biaya pendidikan. Mahasiswa hanya perlu beli buku atau diktat kuliah (muqarrar) yang ditebitkan al-Azhar dan sedikit biaya administrasi pembuatan kartu Mahasiswa.


III. PENUTUP

A. Kesimpulan
Asal mula Al Azhar adalah berupa mesjid yang dibangun oleh Jauhar Al-Shaqali, seorang panglima perang pada Dinasti Fathimiyah, pada tanggal 24 Jumadil Ula 359 H (970 M). Seiring dengan perkembangan zaman, masjid Al Azhar adalah merupakan tempat dakwah yang semakin hari semakin besar, sehingga menjadi sebuah lembaga pendidikan. Kondisi semacam itu berlangsung lama sampai pertengahan abad 21. Jadi selama itu pula Al Azhar yang berupa masjid mempunyai fungsi ganda; sebagai masjid dan pusat kegiatan Islam, dan sebagai lembaga pendidikan. Kedua faktor inilah yang membuat Al Azhar selalu melakukan pembaruan yang terus berkesinambungan.

Pembaruan yang amat kentara sekali telah dilakukan oleh Syekh Muhammad Abduh ketika masih memegang kendali Al Azhar. Pembaruan tersebut dimaksudkan untuk menegaskan fungsi Al Azhar sebagai pusat pemurnian pemahaman Ajaran Islam dan diharapkan dapat mencetak kader-kader da’i yang tangguh. Dibentuklah dalam tubuh Al Azhar beberapa jenjang pendidikan, sejak tingkat dasar sampai jenjang akademi. Juga membuka fakultas-fakultas umum yang semuanya dengan sistim terpisah antara putra dan putri.
Semakin hari, Al Azhar berkembang semakin besar. Sehingga tidak hanya berpusat di Ibukota, Kairo, tapi hampir menyeluruh di setiap propinsi di Mesir dibuka cabang Al Azhar.
Kebesaran tersebut lebih terasa lagi, demi mengetahui bahwa Al Azhar adalah lembaga sosial yang teramat sosial. Al Azhar, sepeserpun tidak menarik uang kuliah dari mahasiswa. Bahkan ia tiap tahunnya membuka pendaftaran beasiswa. Juga terus mengadakan pembangunan dan membuka cabang-cabang baru di daerah-daerah.


B. Saran
Banyak hal yang dapat kita ambil dari kehebatan dinasti fathimiyah serta Universitas al-Azhar sebagai karya besarnya. Kebesaran al-Azhar tidak lepas dari konsistensinya mempertahankan sistem wakaf yang diyakini oleh para pendirinya sebagai penjamin masa depan yang cemerlang. Hal inilah yang paling penting untuk kita kaji untuk kemudian kita terapkan atau paling tidak kita tawarkan penerapannya dalam institusi-insitusi Islam yang ada di negeri ini.





[1]Agus Lutfillah, “Sekilas Sejarah al-Azhar,” http://aguslutfillah.tripod.com/id2.html, (diakses pada 20 Desember 2007), 1.
[2]“Websites Informasi Pendaftaran Universitas al-Azhar Mesir,” http://themis.geocities.yahoo.com/ themis/h.php, (diakses pada 20 Desember 2007), 1.
[3]Website Resmi Atase Pendidikan Dan Kebudayaan KBRI-Cairo, http://dikbudcairo.org/?pilih=arsip &topik=6, (diakses pada 22 Desember 2007), 1.
[4]Op. Cit., “Websites Informasi…”, 2.
[5]Ismailiyah adalah salah satu sekte Syi’ah yang mempercayai bahwa Ismail merupakan imam ketujuh, setelah Imam Ja’far al-Shidiq. Sedangkan sekte yang lain mempercayai bahwa imam ketujuh adalah Musa al-Kazim, Lihat Moh. Nurhakim. Sejarah dan peradaban Islam (Cetakan Pertama; Malang, UMM Press, 2004), 99.
[6]Ibid.
[7]Ragab Abdurrahman, “Sejarah Berdirinya Jami’ al-Azhar”, http://ragab304.wordpress.com/sejarah-al-azhar-asy-syarif/ sejarah-berdirinya-jami-al-azhar/, (diakses pada 20 Desember 2007), 1.
[8]Ibid.
[9]Ibid.
[10]Ibid.
[11]Ibid.
[12]Ibid.
[13]Ibid.
[14]Ibid.
[15]“Sejarah Universitas al-Azhar,” http://geocities.com/azh4r04/azhar.htm, (diakses pada 20 Desember 2007), 1.
[16]Kota Kairo Mesir dibangun tanggal 17 Sya’ban 358H oleh al-Shiqili atas perintah Khlaifah Fathimiyah, al-Muiz Lidinillah sebagai ibukota kerajaan tersebut. Sekeliling kota dibangun pagar tembok besar dan tinggi, yang sampai sekarang masih ditemui peninggalannya. Lihat Badri Yatim. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2000), 281.
[17]“Sejarah Universitas...,” Loc. Cit..
[18]al-Aziz (975-996), putera Muiz, adalah khalifah yang paling bijaksana dan pemurah, sehingga mampu membawa rakyat lebih makmur. Ia menekankan adanya perdamaian antara pengikut agama, baik Islam maupun Kristen sehingga salah satu wazirnya beragama Kristen, yaitu Isa bin Nastur. Ia membawa Fathimiyah pada puncak kemajuan yang mengungguhli Bani Abbas di Baghdad saat itu. Lihat Nurhakim, Op. Cit., 102.
[19]“Sejarah Universitas...,” Op. Cit., 2.
[20]Nurhakim, Op. Cit., 103.
[21]Dar al-Hikmah merupakan salah satu fondasi terpenting dari peradaban yang dibangun Dinasti Fathimiyah di Mesir. Untuk mengembangkan isntitusi ini, al-Hakim menyuntik dana sangat besar, di antaranya digunakan untuk menyalin berbagai naskah, memperbaiki buku dan pemeliharaan lainnya. Lihat Phillip K. Hitti, History of the Arabs (Jakarta, Serambi, 2002), 801.
[22]Nurhakim. Loc. Cit.
[23]“Sejarah Universitas...,” Loc. Cit.
[24]Agnan Abdurrahman, “Sekilah Sejarah al-Azhar,” http://agnan.multiply.com/journal/item/1/ Sekilas_Sejarah_Al-Azhar, (diakses pada 19 Desember 2007), 3.
[25]Ibid.
[26]Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), 61.
[27]Agnan., Op. Cit., 4.
[28]Ibid., 4-5.
[29]Prasetyo, “Sistem Perkuliahan al-Azhar”, http://ayo.kliksini.com/auracms/?pilih=lihat&id=3, (diakses pada 20 Desember 2007), 1.
[30]Agus, Op. Cit., 4.
[31]Ibid.







































Tidak ada komentar:

Posting Komentar