Total Tayangan Laman

Selasa, 20 Desember 2011

B. Empirisme, Nativisme dan Filsafat Pendidikan Islam


Empirisme dan Nativisme, serta Konsep Filsafat Pendidikan Islam
Pandangan Empirisme dan Nativisme, tidak terlepas dari pembahasan tentang "hakekat" manusia. Pandangan tentang "hakikat" manusia tersebut akan memunculkan bagai­mana posisi dan eksistensi dari potensi manusia itu sen­diri, di samping interaksinya dengan faktor lingkungan. Keterkaitan dengan faktor lingkungan, dikarenakan "haki­kat" manusia tidak mungkin lepas dari factor lingkungan yang menjadi unsur "pembedanya". Secara terminologis, hakekat itu sendiri adalah "realitas sesuatu atau eksis­tensi sesuatu itu sendiri, kenyataan eksistensi sesuatu yang sebenarnya, bukan secara semu atau temporer atau bukan pula kondisi labil".[6] Dengan demikian, apabila membicarakan hakikat sesuatu, maka pembicaraan tersebut tidak terlepas dari "obyektifitas". Pembicaraan hakikat manusia, misalnya tidak sebagaimana yang dikatakan oleh Protagoras, Prodikos dan Gorgias --tokoh kaum Sofis-- bahwa manusia adalah ukuran segala-galanya. Apa yang benar menurut manusia tersebut, maka itulah yang benar baginya. Pandangan Protagoras tentang hakikat manusia tidaklah "mendasar", karena baginya tidak ada kebenaran yang bersi­fat umum dan universal. Kebenaran semuanya bersifat subyektif dan relatif, sehingga manusia yang kuat argumen­nya tentang sesuatu hal, maka ialah yang benar.[7]

Pandan­gan dari Protagoras dkk., menunjukkan bahwa pembicaraan hakikat manusia itu sendiri bagi mereka belumlah final dan menduduki posisi yang obyektif. Pembicaraan mengenai hakikat sesuatu, barulah dapat dilihat dari hasil-hasil pemikiran Socrates. Socrates memulai memecahkan "polemik" tentang hakikat sesuatu tersebut dengan suatu metode berpikir "induksi". Metode komparatif terhadap berbagai kasus yang terjadi, serta dari kasus-kasus tersebut diambil kongklusi yang merupakan pengertian serta bersifat general, mendasar dan merupakan standar bagi hakikat kasus-kasus tersebut. Dengan demikian, induksi adalah motode berpikir dengan pendekatan dari khusus ke umum. dalam termi­nologi ushul fikih, dikenal kaidah "al-ibrah bil khusus al-sabab la bi umum al-lafzi", atau sebaliknya. Dengan menggunakan metode induksi, maka ia dapat mengambil suatu kongklusi yang merupakan pengertian umum/universal. Inilah yang ia anggap sebagai hakikat sesuatu tersebut. Hakikat sesuatu tersebut, sekarang lebih populer dengan istilah "definisi".[8]

Pembicaraan mengenai hakikat sesuatu ini telah memunculkan berbagai teori dengan beragam pendeka­tan. Menurut Ahmad Tafsir, teori-teori dengan pendekatan tersebut, telah melahirkan cabang-cabang ilmu, misalnya teori tentang hakikat manusia telah melahirkan ilmu an­thropologi, psikologi, sosiologi, dll. Teori tentang hakikat agama, telah melahirkan filsafat agama, atau teologi. Teori tentang hakikat pendidikan telah melahirkan berbagai disiplin ilmu pendidikan, dst. Yang jelas dalam pandangan Ahmad Tafsir lebih lanjut, dalam melihat hakikat sesuatu maka semuanya berawal dari segi ontologis terlebih dahulu, yaitu bermula dari pertanyaan apakah sebenarnya realitas sesuatu itu ?.[9]
Dengan berpijak pada gambaran di atas, maka jelaslah bahwa yang dimaksud dengan hakikat manusia secara termino­logis, adalah "realitas" manusia secara obyektif, manusia secara kenyataan yang sebenarnya, bukan semu, temporer atau kondisi labil. Hakikat manusia dimaksudkan pada realitas manusia secara definitif, sebagaimana diisyarat­kan oleh kategori pengertian umum dari Socrates. Meskipun demikian, masih terdapat kualifikasi yang berbeda dalam melihat hakikat manusia di sini. Hal ini disebabkan oleh pendekatan-pendekatan yang dipergunakan oleh para pemikir. Oleh karena itu, munculah berbagai aliran pemikiran dalam melihat hakikat manusia tersebut. Dengan demikian, apabila berbicara tentang hakikat manusia menurut suatu aliran pemikiran, maka haruslah dilihat terlebih dahulu bagaimana aliran-aliran pemikiran tersebut melihat hakikat manusia.

Aliran Materialisme misalnya, berpendapat bahwa hakikat manusia adalah "materi semata". Aliran pemikiran ini berpendapat demikian, karena mereka berpijak pada asumsi mereka bahwa segala sesuatu hanyalah materi belaka. Materi bagi mereka adalah substansi "terdalam" dan "berek­sistensi" dengan kekuatan sendiri serta tidak membutuhkan prinsip atau teori lain untuk menerangkan eksistensi tersebut. Materi menurut mereka, adalah "realitas" dan ialah satu-satunya hal yang nyata.[10] Berdasar pijakan ini, manusia merupakan materi yang paling tinggi tingkatannya "homo homini deust est",[11] dan karenanya, Fuerbach --tokohnya aliran materialisme-- berpendapat bahwa manusia adalah "tuhan" bagi sesamanya. Dalam ajaran materialisme, eksistensi ruhaniah manusia sesungguhnya masih diakui, tapi ia bukanlah bagian dari hakikat manusia itu sendiri.[12] Dengan asumsi material di atas, maka aliran ini berpendapat bahwa hal-hal yang bersifat metafisika, terlebih "agama", harus ditolak.[13]

Berbeda dengan aliran Materialisme, aliran idealisme justru berpendapat sebalik­nya. Menurut aliran ini, hakikat manusia justru adalah sifat "ruhaniyahnya", bukan materinya. Jasmaniah manusia barulah dapat dipahami, berdasarkan pada hakikat manusia tu sendiri (ruhaniyahnya).[14]

Dalam pandangan aliran ini, jasmani manusia tidak lebih dari "realisasi" dari apa yang dianggap mereka sebagai "hakikat manusia" itu sendiri, yaitu aspek ruhaniyahnya. Selain kontradiktif dalam melihat hakikat manusia, Kedua aliran di atas, berbeda pula dalam melihat asal dari pengetahuan manusia dan alam semesta. Bagi aliran materialisme, yang lebih dahulu ada adalah obyek pengeta­huan dan realitas alam semesta ini. Kemudian dari obyek pengetahuan dan realitas alam semesta ini, munculah penge­tahuan dan ide-ide. Aliran Idealisme berpendapat sebalik­nya, bahwa yang lebih dahulu ada adalah subyek pengetahuan dan ide-ide, barulah muncul obyek pengetahuan dan realitas alam semesta. Dan dalam hal inilah, perbedaan kedua aliran pemikiran ini berpengaruh besar terhadap perkembangan aliran filsafat pendidikan kemudian.

Secara analisis, dapat dikemukakan bahwa aliran-aliran pemikiran dalam pendidikan konvensional yang lahir kemudian, merupakan aliran yang lahir dari pengaruh atau paling tidak pengembangan "reaksi" dan "refleksi" pemiki­ran dari kedua aliran ini, baik itu aliran Empirisme, Nativisme maupun Konvergensi kemudian. Aliran Empirisme misalnya, ia banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan dan gagasan dari aliran Material­isme. Pandangan aliran Materialisme tentang obyek pengeta­huan dan realitas alam yang membentuk ide-ide, kemudian menjadi "pokok" dari pandangan aliran filsafat pendidikan ini. Pokok gagasan tersebut akhirnya diwujudkan ke dalam suatu paradigma aliran ini, bahwa faktor luar/ekstern manusia yang dalam hal ini lingkungan merupakan unsur utama "pembentuk" pengetahuan dalam diri manusia. Manusia yang walaupun mempunyai "potensi" ruhaniyah, namun potensi manusia tersebut tidaklah "menentukan" pertumbuhan dan perkembangan manusia itu sendiri dalam proses penerimaan pengetahuannya. Manusia menurut aliran ini sebagaimana kertas putih ketika ia dilahirkan (tabularasa), dan akan segera diisi oleh berbagai "catatan" dalam berbagai warna, dan catatan-catatan tersebut, adalah berupa pengalaman empiriknya. Oleh karena itu, tingkat kuantitas maupun kualitas manusia dalam berpengetahuan, sangat ditentukan oleh kuat-tidaknya faktor eksteren/lingkungan mempenga­ruhinya.

Berdasar pada pandangan seperti di atas, maka faktor lingkungan yang dalam hal ini adalah faktor pendidikan merupakan aspek utama dalam aliran ini. Sebagai faktor penentu bagi perkembangan, maka pengembangan pendidikan dan bentuk-bentuknya mendapatkan perhatian besar dari penganut aliran ini, bahkan berbagai sistem pendidikan modern kemungkinan besar lahir atas dorongan-dorongan dari para penganut aliran ini. Pada hakekatnya, pola hubungan yang dibangun antara faktor pendidikan dan manusia itu menurut paradigma aliran ini, seumpama pengisian bermacam-macam air/minyak ke dalam wadahnya. Penguasaan seseorang terhadap bidang pengetahuan, menurut aliran ini, sangat tergantung pada bagaimana pendidikan dan pengalaman ber­pengaruh padanya. Oleh karena itu, pendidikan yang relevan dan paling efektif menurut aliran ini, adalah pendidikan yang lebih berorientasi pada pemberdayaan pendidikan dan pengalaman anak-didik itu sendiri.

Salah satu implikasi yang terjadi dari realisasi paradigma empirisme, adalah munculnya "reduksi" terus-terusan atau bahkan "penghilangan" dimensi dan peranan in­ternal dalam proses pendidikan. Berpijak dari pandangan bahwa faktor ekstern manusia, merupakan faktor penentu, maka upaya yang dilaksanakan akan terus-terusan berorien­tasi pada pemberdayaan aspek luar diri manusia itu sen­diri. Reduksi dan bahkan penghilangan dimensi dan peranan internal manusia, justru akan mendorong dan mengarahkan manusia yang menjadi anak-didik ke arah "sekularisasi" kehidupan dari aspek-aspek rohani, terutama naluri keagamaan.

Adapun aliran Nativisme, secara umum sangat dipenga­ruhi oleh pandangan-pandangan dari aliran Idealisme,[15] terlihat dari konsepsi dasarnya tentang hakikat manusia itu sendiri. Menurut aliran Nativisme ini, manusia mempun­yai potensi yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan dalam proses penerimaan pengetahuan. Potensi tersebut merupakan "gabungan" dari hereditas orang tuanya maupun "bakat/pembawaan" yang berasal dari dirinya sendiri. Kontribusi lingkungan baginya tidaklah membawa konsekuensi apa-apa terhadap pengetahuan manusia.[16] Bahkan Schopenhaur (1778-1860) --tokoh Nativisme-- mengatakan bahwa potensi/bakat manusia merupakan nasib malang manusia karena posisinya yang vital dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia.[17] Potensi manusia yang terwujud dalam bakat/pembawaan itulah yang merupakan hakikat dari manusia dan ia tidaklah dapat dirubah oleh pengaruh lingkungan.[18] Dengan potensi ini, faktor lingkungan tidaklah berpengaruh pada proses penerimaan pengetahuan dan pendidikan manusia. Schopenhour mengkristalisasikan gagasannya dari konsep umum, bahwa alam semesta termasuk manusia, berjalan dan ditentukan oleh faktor "kemauan" yang ia anggap sebagai hakikat sesuatu. Hakikat manusia itu sendiri menurutnya --menjadi gagasan umum tokoh-tokoh Nativisme-- adalah kemauan itu sendiri yang terwujud ke dalam bakat dan pembawaan.[19] Faktor hereditas dan pembawaan manusia dipandang sebagai hal yang urgen dan menentukan. Ia juga dianggap sebagai "ciri khas" dari kepribadian manusia dan bukanlah hasil hasil dari pendidikan karena kalau ia merupakan hasil dari pendidikan, maka tentu faktor eksternal (ling­kungan) sangat berperan terhadapnya. Hal Ini sangat kon­tradiktif dengan pandangan dasar aliran filsafat Nativisme tersebut. Tingkat pendidikan seseorang dengan demikian sangat berkaitan dengan faktor hereditas dan pembawaan ini, karena ia menjadi "format" sekaligus "modal utama" dari tingkat pendidikan tersebut. Seorang yang berbakat dan mempunyai pembawaan yang rendah dalam suatu bidang pengetahuan, maka ia tidak akan pernah menguasai bidang pengetahuan tersebut walaupun ia telah berupaya semaksimal mungkin. Dengan pandangan-pandangan seperti ini, aliran Nativisme dituduh sebagai aliran filsafat yang mengabaikan aspek pendidikan bahkan disebut aliran pesimisme. Namun apabila dilihat secara lebih mendalam, julukan "pesimisme" terhadap aliran Nativisme ini tidaklah tepat secara kese­luruhan. beberapa hal dari pandangan-pandangan aliran ini justru merupakan "pendorong" bagi berbagai upaya "preven­tif" terhadap bakat dan pembawaan yang merupakan potensi manusia.

Upaya-upaya preventif tersebut adalah "perencanaan" yang lebih matang dalam memilih program pendidikan dan tingkatannya. Oleh karena bakat dan hereditas manusia merupakan "penentu" dari pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan manusia, maka manusia mempunyai ketergantungan sangat mutlak terhadap aspek-aspek tersebut. Dengan demi­kian, konsep pendidikan yang efektif dan efisien menurut aliran ini adalah konsep pendidikan yang berjenjang, bertahap dan bersifat selektif serta lebih berorientasi pada "pemberdayaan bakat/potensi" anak-didik. Semua manu­sia mempunyai bakat dan hereditas berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidikan manusia dan prosesnya haruslah dimulai dari bakat dan hereditas yang berbeda-beda ini. Dengan perencanaan dan seleksi yang matang, maka akan ditemukan berbagai metode dan fasilitas pendidikan yang relevan bagi peserta didik, berdasarkan pada potensinya tersebut. Dengan demikian, terciptalah upaya yang lebih dini dalam merealisasikan dan menemukan apa bakat dan hereditas peserta didik, sekaligus menemukan pula metode tentang bagaimana mengembangkan hal tersebut.

Kendala utama dalam penerapan konsep pendidikan berdasarkan aliran Nativisme ini, terletak pada kebutuhan­nya terhadap "banyaknya" tenaga edukatif yang kualified dalam bidang-bidangnya. Selain itu, fasilitas pendidikan yang menunjang pemberdayaan bakat dan hereditas itu sen­diri membutuhkan dukungan finasial yang sangat besar. Pendeknya, konsep pendidikan menurut aliran ini, akan lebih efektif, efisien dan berhasil apabila diterapkan di negara-negara maju, yang tidak banyak menemukan kendala di bidang tenaga edukatif serta fasilitas pendidikannya.

Beberapa hal menarik lainnya dari konsep di atas, adalah nuansa-nuansa egalitarian yang dikandungnya terli­hat lebih kuat dibandingkan konsep-konsep dari aliran filsafat pendidikan lainnya. Hal tersebut dapat diamati dari proses pendidikan yang lebih mementingkan kualitas rohani (bakat/pembawaan) dibandingkan kualitas jasmaninya (lingkungan/eksternal). Peserta didik yang mempunyai bakat dan hereditas kuatlah yang seharusnya mendapatkan proporsi dan posisi terbaik dalam proses pendidikan, dibandingkan peserta didik yang bakat dan pembawaannya rendah/biasa-biasa saja. Jadi dalam penerapan konsep pendidikan ini, tidak lagi dijumpai diskriminasi dalam hal fisik yang umumnya sangat "menyulitkan" dan "menghambat.
Selain itu dapat dikemukakan bahwa dalam konsep pendidikan ini sesungguhnya terdapat rasa "optimisme" yang tinggi. Optimisme ini terlihat dari satu "asumsi dasar" bahwa ketidak-berdayaan/ketidak-mampuan seorang peserta didik, bukan berarti ia tidak mempunyai bakat/ pembawaan. Ada kalanya bakat/pembawaan anak didik tidak ditemukan dalam satu bidang tertentu, namun kemudian ia ditemukan di bidang yang lain. Dengan demikian, orang tua peserta didik khususnya dan para pendidik umumnya, akan terus berupaya memantau perkembangan bakat/pembawaan peserta didiknya. Akibatnya, upaya orang tua dan pendidik yang kontinyu tersebut lambat-laun akan berhasil pula "menemukan" bakat/pembawaan peserta didik yang relevan. Kenyataan optimisme di sini, tentunya kontradiktif apabila dikaitkan dengan julukan pesimisme orang terhadapnya.

Sesuai dengan konsep pendidikan aliran filsafat ini, yang menekankan bahwa bakat/pembawaan merupakan faktor penentu dan tidak dapat dirubah, maka realisasi dari konsep pendidikan yang ditawarkannya adalah berupaya "menemukan" bakat/pembawaan peserta didik, melalui berba­gai pelatihan dengan berbagai metode. Oleh karena itu, efektifitas dan efisiensi metode-metodepun memegang pera­nan penting dalam proses "menemukan" hal-hal di atas. Pada akhirnya, konsep pendidikan aliran filsafat ini dalam penerapannya terwujud ke dalam jargon-jargon yang menjadi doktrin intinya yaitu "motivasi", "mencoba" dan "menemu­kan". Motivasi merupakan unsur penting bagi orang tua dan pendidik untuk terus-menerus menciptakan "terapi" penemuan bakat/pembawaaan peserta didik. Mencoba merupakan proses terapi yang terealisir ke dalam penggunaan berbagai metode penemuan bakat/pembawaan dan menemukan bakat/pembawaan, sebagai hasil akhirnya.

Kendala utama sebagaimana dikemukakan di muka sangat berkaitan dengan pengejawantahan ketiga jargon di atas. Kendala yang berkenaan dengan tenaga edukatif, berhubungan erat dengan proses motivasi, mencoba dan menemukan. Unsur menonjol dari pengejawantahan ketiga jargon di atas, adalah penggunaan metode-metode. Hanya tenaga edukatif yang menguasai metode-metode terkait dan kualified di bidangnya yang akan mampu melaksanakannya. Adapun kendala yang berkenaan dengan fasilitas pendidikan, berhubungan erat dengan aspek finasial yang mendukung proses pendidikan yang dijalankan oleh tenaga-tenaga edukatif di atas.
Dalam realitas, jelas pandangan aliran ini sangat kontradiktif dengan pandangan aliran Empirisme, namun meskipun demikian terdapat satu inti persamaan bahwa pendidikan bagimanapun mempunyai peranan penting, walaupun keduanya mempunyai titik tekan dan orientasi yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar