Total Tayangan Halaman

Selasa, 20 Desember 2011

A. Pendahuluan


Secara historis, kajian tentang esensi dan eksisten­si manusia telah dimulai sejak para pemikir atau filosof yang dikenal dengan kaum sofis mengalihkan perspektif mereka dari kajian kosmologis --di luar diri manusia--, yang menjadi landasan berpikir awal, ke spekulasi tentang diri manusia itu sendiri. Kalau sebelumnya para filosof "berkutat" dengan berbagai spekulasi mereka tentang alam sekitar, mencari keterangan tentang segala yang ada, maka para filosof sofisme --yang berkembang pesat pada abad ke-5 sebelum Masehi-- membawa pembahasan falsafah tersebut ke dalam pembahasan tentang "yang ada" dalam diri manusia. Mereka memandang manusia sebagai makhluk yang berpengeta­huan dan berkehendak.[2]

Pemikiran-pemikiran mereka berpengaruh besar, serta menimbulkan “revolusi ilmiah” di masa para pemikir dan filosof setelahnya. Dalam masa selanjutnya, pandangan manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan dan berkehen­dakpun mengalami perkembangan pesat. Secara umum, hal itu telah memunculkan berbagai spekulasi dari para pemikir atau filsof dan membentuk aliran-aliran pemikiran tentang masalah tersebut, mulai dari aliran Empirisme, rasiona­lisme, Positivisme, Institusionalisme, dll.[3]

Dalam dunia pendidikan, pandangan di atas merupakan masalah aktual, mengingat posisi "strategis" manusia itu sendiri sebagai subyek sekaligus obyek dari transformasi pengetahuan. Berbagai spekulasi dari pemikir atau filosof, yang mengk­ristal pada aliran-aliran pemikiran di atas, setidaknya telah menjadi kontribusi dominan terhadap segi aktualitas tersebut. Dari sekian banyak aliran di atas, dalam dunia pendidikan itu sendiri pada dasarnya termanifestasi pada tiga kategori aliran pemikiran, yaitu Empirisme, Nativisme dan Konvergensi. Ketiga aliran tersebut menekankan pemba­hasan mereka pada "interaksi" intern manusia dan faktor luar manusia, terhadap proses berpengetahuan dan berkehen­dak dalam diri manusia. [4]

Dalam Islam, pandangan bahwa manusia merupakan makhluk berpengetahuan dan berkehendak, bukanlah pandangan yang "asing". Sejak awal, Islam telah begitu memberikan penghargaan terhadap "segi berpikir" dan "kebebasan" manusia dalam berkreasi/berkehendak. Penghargaan Islam terhadap dua aspek manusia ini, tumbuh dari konsep awal Islam itu sendiri, bukan merupakan tesa, anti-tesa, atau sintesa seperti pada perkembangan filsafat umum. Sebagai bukti, sejak awal Islam telah menanamkan konsep "iqra'", QS. Al-'Alaq : 1-5 yang berarti menekankan supaya manusia berpengetahuan dan berwawasan ilmiah. Konsep ini dijabarkan oleh prilaku rasul yang mementingkan "terwujudnya" masyarakat berpera­daban (civil society) dalam arti berpengetahuan dan berwawasan.[5]

Selain itu, banyak hadits rasul yang menyatakan pentingnya pengetahuan. Seperti hadits yang umum diketahui "Menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan. "Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina", dst. Di sisi lain, konsep "Syura'" QS. 'Ali Imran : 159 dan Asy-Syura: 38 yang kemudian dielaborasikan oleh perilaku rasul dalam menghargai pendapat para shahabat, menunjukan bahwa Islam memberikan tempat yang tinggi bagi "kebebasan" kehendak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar