Total Tayangan Laman

Kamis, 29 Desember 2011

KUTTAB SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

  
BAB I PENDAHULUAN

Keberadaan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia yang katanya mayoritas Islam, masih dianggap sebelah mata. Bahkan banyak yang tidak mengerti bahwa Madrasah Ibtidaiyah, Tsnawiyah, dan Aliyah termasuk Lembaga Pendidikan Formal.
Untuk memajukan Lembaga Pendidikan Islam, penting sekali bagi kita untuk mempelajari bentuk-bentuk Lembaga Pendidikan Islam yang pernah ada.
Mempelajari perkembangan Lembaga Pendidikan Islam, tentulah dimulai dari Lembaga Pendidikan Islam yang pertama kali ada, yaitu kuttab. Lembaga Pendidikan Islam yang sudah ada sejak zaman Rasulullah.
Kuttab pertama kali ada di Arab. Bangsa Arab sendiri sebelum berkembangnya Islam terkenal dengan budaya jahiliah. Mayoritas masyarakat Arab buta huruf dan kurang tertarik mengembangkan pendidikan. Ketika Islam datang, hanya ada 17 orang Quraisy yang mengenal tulis baca.


BAB II PENGERTIAN KUTTAB

Istilah kuttab telah dikenal di kala­ngan bangsa Arab pra-Islam; dan seperti sebelumnnya kuttab men­jalankan fungsi yang sama dalam Islam, yaitu sebagai lembaga pendidikan dasar terutama mengajarkan tulis-baca. Pada saat datangnya Islam hanya ada 17 orang Quraisy yang mengenal tulis-baca. Di tengah permusuhan suku Quraisy, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh Rasul saw bersama pengikutnya yang hanya sedikit. Ketika akhirnya mereka hijrah ke Madinah (622 M.) beberapa orang dari suku Aws dan Khazraj (dua suku utama Madinah) dapat menulis dan membaca.

Menuruti ajaran Islam, Rasulullah saw. memberikan perhatian khusus pada soal-soal pendidikan. Keterampilan tulis-baca yang merupakan materi utama pendidikan kuttab- menjadi semakin penting sejalan de­ngan berkembangnya komunitas Muslim Madinah. Kebutuhan paling penting, tentunya, adalah mencatat wahyu yang diterima oleh Rasul saw. Tetapi tulis-baca ini juga dibutuhkan untuk memungkinkan komunikasi antara umat Islam dengan suku dari bangsa lain. Peletakan tulis-baca sebagai prioritas dapat kita lihat dengan peristiwa pembebasan beberapa tawanan Perang Badr (2/624) setelah mereka mengajarkan tulis-baca kepada sekelom­pok Muslim. Rasul saw juga memerintahkan Al-Hakam bin Sa’id untuk mengajar pada sebuah kuttab di Madinah. Ini menunjuk­kan bahwa pendidikan telah menjadi perhatian utama umat Islam sejak masa yang paling awal.

Pada mulanya, pendidikan kuttab berlangsung di rumah-rumah para guru (mu’allim, mu’addib) atau di pekarangan sekitar masjid. Materi yang digunakan dalam pelajaran tulis-baca ini pada umumnya adalah puisi dan pepatah-pepatah Arab yang mengandung nilai-niiai tradisi yang baik. (Penggunaan Al-Quran sebagai teks dalam kuttab baru terjadi kemudian, ketika jumlah Muslim yang menguasai Al-Quran telah banyak, dan terutama setelah kegiatan kodifikasi pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan). Kebanyakan guru kuttab masa awal Islam adalah non­Muslim, sebab Muslim yang dapat membaca dan menulis yang jumlahnya masih sangat sedikit sibuk dengan pencatatan wahyu Al-Quran.
Kuttab berasal dari akar kata taktib yang artinya mengajar menulis. Sementara katib atau kuttab berarti penulis. Institusi tersebut hanya berupa tempat belajar baca tulis bagi anak-anak.
Kuttab merupakan tempat belajar yang mula-mula lahir di dunia Islam. Pada awalnya kuttab berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak,
Kuttab sebenarnya telah ada di negeri Arab sebelum datangnya agama Islam. Kuttab merupakan institusi pendidikan yang tertua dalam sejarah tarbiyah. Bisa diibaratkan sebagai sebuah pesantren di Jawa. Kondisinya masih sangat sederhana. Yang ada hanya seorang guru yang dikelilingi sejumlah murid.
Di antara penduduk Mekah yang mula-mula belajar menulis huruf Arab di kuttab ini ialah Sufyan bin Umayyah bin Abdul Syams dan Abu Qais Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab.Keduanya belajar dari Bisyr bin Abdul Malik yang mempelajarinya dari hirah. Kuttab dalam bentuk awalnya hanya berupa ruangan di rumah seorang guru.
Keistimewaan lembaga tradisional pertama dalam Islam ini, meskipun masih sangat sederhana, tetapi memberikan kontribusi bagi umat hingga berdirinya sistem madrasah pada abad-abad berikutnya.
Pendidikan jenis kuttab ini pada mulanya diadakan di rumah-rumah guru. (mu’alim, muaddib). Setelah Nabi Saw. dan para sahabat membangun masjid, barulah ada kuttab yang didirikan di samping masjid. Selain itu ada juga kuttab yang didirikan terpisah dari masjid. Masa belajar di Kuttab tidak ditentukan, bergantung kepada keadaan si anak. Anak yang cerdas dan rajin, akan lebih cepat menamatkan pelajarannya. Sebaliknya anak yang malas akan memakan waktu yang lama untuk menamatkan pelajarannya. Sistem pengajaran di kuttab ketika itu tidak berkelas. Para murid biasanya duduk bersila dan berkeliling menghadap guru.
Pada awal pemerintahan Islam di Madinah, pengajar baca tulis di kuttab kebanyakan non muslim, karena sedikit sekali kaum muslim yang bisa menulis. Rasulullah pernah membebaskan para tawanan perang dengan syarat mengajari 10 orang muslim membaca dan menulis. Pada awalnya pengajaran baca-tulis tidak dinukil langsung dari Al-Qur’an tetapi dari puisi dan syair bijaksana orang-orang Arab. Setelah banyak kaum muslimin yang pandai menulis dan membaca, maka pengajaran baca tulis di kuttab sumber nukil pun tidak lagi puisi dan syair tetapi Al-Qur’an. 




BAB III JENIS-JENIS KUTTAB
Pada mulanya kuttab (maktab) berfungsi sebagai tempat memberikan pelajaran menulis dan membaca bagi anak-anak, namun ketika ajaran Islam mulai berkembang, pelajaran ditekankan pada penghafalan Al-Qur’an. Menurut catatan sejarah, kuttab telah ada di negeri Arab sejak masa pra-Islam, walau belum begitu dikenal dan baru berkembang pesat setelah periode bani Ummayah, namun seiring dengan meluasnya wilayah kekuasaan Islam, jumlah pemeluk Islam pun semakin bertambah. Hal ini menuntut dikembangkannya kuttab yang ada untuk mengimbangi laju pendidikan yang begitu pesat. Pada perkembangan selanjutnya, selain kuttab-kuttab yang ada di masjid, terdapat pula kuttab-kuttab umum yang berbentuk madrasah, yakni telah mempergunakan gedung sendiri dan mampu menampung ribuan murid.
Kuttab jenis ini mulai berkembang karena adanya pengajaran khusus bagi anak-anak keluarga kerajaan, para pembesar, dan pegawai Istana. Dan diantaranya yang mengembangkan pengajaran secara khusus ini adalah Hajjaj bin Yusuf al-Saqafi (w.714) yang pada mulanya menjadi muaddib bagi anak-anak Sulayman bin Na’im, Wazir Abd al-malik bin Marwan.

Dua Jenis Kuttab
Ahmad Syalabi adalah ilmuwan pertama yang menjelaskan terdapatnya dua jenis kuttab dalam sejarah pendidikan Islam. Perbedaan ini terutama didasarkan pada isi pengajaran (kuriku­lum), tenaga pengajar dan masa tumbuhnya.
1.      Kuttab jenis pertama adalah kuttab yang berfungsi mengajarkan tulis-baca dengan teks dasar puisi-puisi Arab, dan dengan sebagian besar gurunya adalah non-Muslim (setidaknya pada masa Islam yang paling awal).
2.      Kuttab jenis kedua adalah yang berfungsi sebagai tempat pengajaran Al-Quran dan dasar-dasar agama Islam. Di sinilah, menurut Syalabi, terjadinya kekeliruan pemahaman oleh bebera­pa ilmuwan terdahulu, dengan menganggap kedua jenis kuttab ini adalah sama. Ia mengambil contoh tiga orang ilmuwan: Philip K. Hitti, Ahmad Amin, dan Ignaz Goldziher. Konsekuensinya memang cukup jelas. Mempercayai bahwa tulis-baca Al-Quran dan dasar-dasar agama diajarkan pada kuttab yang sama sejak masa Islam yang paling dini akan menjurus pada kesimpulan bahwa anak-anak generasi awal Muslim mempela­jari agamanya dari orang-orang non-Muslim.
Di sinilah signifi­kansi perbedaan kedua kuttab ini menjadi terlihat jelas. Kuttab jenis kedua tidak ditemui pada masa paling awal, ketika kuttab jenis pertama sudah mulai berkembang. Pengajaran Al-Quran pada kuttab (sebagai teks) baru mulai setelah jumlah qurra’ dan huffazh (ahli bacaan dan penghafal Al- Quran) telah banyak. Se­belumnya pengajaran agama anak-anak dilangsungkan di ru­mah-rumah secara non-formal.
Dengan semangat ilmiah yang tinggi, jumlah Muslim yang mengenal tulis-baca serta menguasai Al-Quran berkembang sa­ngat cepat, dan ketergantungan pada guru-guru non-Muslim berangsur hilang. Hal ini dilengkapi dengan kontak umat Islam dengan pusat-pusat kegiatan intelektual di luar Arabia sepanjang dan sesudah penaklukan. Hanya sekitar sepuluh tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, pasukan Islam telah menguasai Syria, Irak, dan Mesir — daerah-daerah yang menjadi pusat kegiatan intelektual saat itu. Peristiwa ini mendorong munculnya diversifikasi pengetahuan yang dikenal oleh umat Islam dan pada gilirannya mempengaruhi kurikulum kuttab. Per­kembangan berikutnya menunjukkan bahwa tulis-baca, puisi, Al-Qur’an, gramatika bahasa Arab, dan aritmatika (berhitung dasar) menjadi bagian utama dari kurikulum pendidikan level ini
Beberapa sumber Abad Pertengahan memberikan informasi yang saling berbeda tentang usia anak memasuki pendidikan kuttab. Barangkali ini dapat juga dianggap sebagai pertanda tidak adanya ketentuan yang baku. Ilmuwan Al-Andalus (Spanyol), Ibn Hazm (w. 456/1064) menganggap bahwa usia lima tahun adalah ideal untuk memulai pendidikan kuttab.
Ibn Al-Jawzi (w. 597/1200) memberitakan bahwa ia memulai pendidikan kuttab­nya pada usia enam tahun, tetapi banyak di antara teman sekelas­nya yang lebih tua dari dia sendiri. Seorang ulama benama Ibn Al-’Adim baru masuk kuttab pada usia tujuh tahun. Yang lain bahkan menunggu sampai berusia sepuluh tahun. Semua ini menunjukkan tidak adanya keseragaman praktik tentang usia untuk memulai pendidikan kuttab.
Perbedaan ini juga berlaku dalam penekanan materi peng­ajaran, sesuai dengan kebutuhan daerah tertentu dan pertim­bangan para ulamanya. Berikut ini adalah catatan Ibn Khaldun (w. 808/1406) mengenai praktik pendidikan kuttab pada masa­nya, yang menunjukkan perbedaan tersebut pada empat daerah yang berbeda. Pertama, umat Islam Al-Maghrib (Maroko) sangat menekankan pengajaran Al-Quran. Anak-anak daerah ini tidak akan belajar sesuatu yang lain sebelum menguasai Al-Quran secara baik. Pendekatan mereka adalah pendekatan ontografi (mengenali satu bentuk kata dalam hubungannya dengan bunyi bacaan). Itulah sebabnya, menurut Ibn Khaldun, Muslim Maroko dapat menghafal Al-Quran lebih baik dari Muslim daerah mana pun.
Kedua, Muslim Spanyol (Al-Andalus). Kuttab daerah ini me­ngutamakan menulis dan membaca. Al-Quran tidak diutamakan dibandingkan dengan puisi dan bahasa Arab, misalnya. Pene­kanan dapat membaca dan menyalin Al-Quran tanpa harus menghafal­nya (seperti Muslim Maroko).
Ketiga, daerah Ifriqiyah (Afrika Utara = Tunisia, sebagian Algazay, dan sebagian Libya). Di sini, begitu Ibn Khaldun, pendidikan dasar di kuttab mengutamakan Al-Quran dengan tekanan khusus pada variasi bacaan (qira’at); lalu dilkuti dengan seni kaligrafi dan hadis.
Daerah keempat yang dibicarakan oleh Ibn Khaldun adalah daerah Timur (Al-Masyriq = Timur Tengah, Iran, Asia Tengah, dan Semenanjung India) yang  menurut pengakuannya tidak ia ketahui secara jelas diban­dingkan tiga daerah yang pertama. Secara umum daerah Timur ini menganut kurikulum campuran, dengan Al-Quran sebagai inti; tetapi tidak memadukannya dengan keterampilan kaligrafi, sehingga tulisan tangan anak-anak Muslim dari Timur tidak be­gitu baik.
Lepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, kuttab berkem­bang pesat sejak masa awal dan dalam perjalanan sejarah pera­daban Islam mengalami perkembangan yang menyesuaikan kepada berbagai latar belakang budaya. Dari lembaga dengan belasan murid pada awalnya, kuttab, di beberapa tempat, menjadi lembaga yang mengumpul ribuan murid, masih pada penghu­jung abad pertama Hijriyah. Kuttab pimpinan Abu Al-Qasim Al-Balkhi (w. 105/723) di Kufah diberitakan mempunyai 3.000 orang murid. Meluasnya lembaga ini, barangkali, dapat kita bayangkan dari laporan seorang pengembara, Ibn Hawqal (w. 367/977). Ketika ia mengunjungi Palermo, Sisilia, di sana terdapat sekitar 300 orang guru kuttab— satu fakta yang mengindikasikan terdapatnya ratusan kuttab di kota ini. Palermo hanyalah sebuah kota kecil bila dibandingkan dengan Baghdad, Damaskus, Alep­po Istanbul, Jerussalem, Samarkand, atau Kairo. Pada Abad Pertengahan beberapa kuttab di Kairo menyediakan asrama dan akomodasi bagi murid-muridnya. Di daerah ini juga ada kuttab yang berafiliasi dengan satu lembaga; pendidikan tinggi yang secara tidak langsung tentunya membantu kelangsungan pen­didikan murid-murid lulusannya ke level yang lebih tinggi.


Menurut Ahmad Syalabi terdapat dua jenis Kuttab dalam sejarah pendidikan Islam. Perbedaan jenis Kuttab ini dilihat dari isi pengajaran (kurikulum), tenaga pengajar dan masa tumbuhnya.
  1. Kuttab yang berfungsi mengajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi Arab. Sebagian besar gurunya adalah non-muslim. Kuttab jenis ini berkembang pada masa Islam awal.
  2. Kuttab yang berfungsi sebagai tempat pengajaran Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam.
Perbedaan Kuttab menurut daerah
a. Kuttab di Al-Maghrib (Maroko)
Umat Islam di Maroko sangat menekankan pengajaran Al-Qur’an. Anak-anak daerah ini tidak akan belajar sesuatu yang lain sebelum menguasai Al-Qur’an secara baik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ontografi (mengenali satu bentuk kata dalam hubungannya dengan bunyi bacaan). Itulah sebabnya, menurut Ibnu Khaldun, muslim Maroko dapat menghafal Al-Qur’an lebih baik dari muslim daerah mana pun.
b. Kuttab di Spanyol (Al-Andalus)
Kuttab daerah ini mengutamakan menulis dan membaca. Al-Qur’an tidak diutamakan dibanding dengan puisi dan bahasa Arab. Penekanan pada pelajaran menulis melahirkan ahli-ahli kaligrafi yang dapat membaca dan menyalin Al-Qur’an tanpa harus manghafalnya (seperti muslimMaroko)
c. Kuttab di Ifriqiyah (Afrika Utara=Tunisia, sebagian Algazy, dan sebagian Libya)
Kuttab di daerah ini menekankan pada variasi bacaan (qira’at) lalu diikuti kaligrafi dan hadits
d. Kuttab di daerah timur (Al-Masyriq=Timur Tengah, Iran, Asia Tengah, dan Semenanjung India)
Secara umum, Kuttab di daerah ini menganut kurikulum campuran dengan Al-Qur’an sebagai inti, tetapi tidak memadukannya dengan ketrampilan kaligrafi, sehingga tulisan tangan anak-anak muslim dari daerah timur tidak begitu baik.

SPI Pramadrasah:
Rumah dan Kuttab
  1. Periode pra-madrasah merupakan periode permulaan tumbuh dan lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam. Pendidikan Islam pada tahap yang paling awal ini berlangsung secara informal di rumah-rumah. Rasulullah telah menjadikan rumah al-Arqam Ibn Abi al-Arqam sebagai tempat belajar dan tempat pertemuan pertama dengan para sahabatnya. Di rumah ini beliau menyampaikan dasar-dasar agama dan mengajarkan al-Qur`an kepada mereka.
  2. Di samping itu, Rasulullah juga telah menjadikan rumahnya di Mekkah sebagai tempat berkumpul untuk belajar. Proses pendidikan Islam yang dilaksanakan secara informal ini kiranya masih berkaitan dan bersentuhan dengan upaya-upaya dalam rangka da’wah islamiyyah
  3. Azyumardi Azra: pendidikan Islam pada awal pertumbuhannya bersentuhan dengan upaya-upaya dakwah islamiyah. Hal ini terbukti dengan dijadikannya rumah al-Arqam sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus pusat dakwah Islam.
  4. Melalui proses historis yang panjang, pendidikan Islam lambat-laun memformalkan dirinya menjadi sebuah sistem pendidikan Islam yang berbeda dengan dakwah Islam. Muhammad Jamal: keduanya dapat dibedakan dari segi obyek formalnya. Obyek pendidikan Islam adalah subyek didik yang dididik dalam keluarga, sekolah dan masyarakat, sedangkan obyek dakwah Islam adalah masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam, sehingga para rasul diutus untuk meluruskannya.
  5. Karena bersentuhan dengan dakwah, materi pendidikan Islam yang disampaikan Rasulullah tidak terlepas dari hal-hal yang berkaitan dengan akidah Islam.
  6. Ayat-ayat Makiyyah kebanyakan berisi tentang akidah islamiyah
  7. Pada pekembangan berikutnya, pendidikan Islam mengalami transformasi yang cukup berarti.  Selain di rumah-rumah, pendidikan Islam juga dilaksanakan di kuttab-kuttab.
  8. Nakosteen: Kuttab adalah tempat belajar yang terletak di rumah guru di mana para murid berkumpul untuk menerima pelajaran 
  9. Stanton: Kuttab berarti tempat terbuka di luar rumah di mana guru mengajak murid-muridnya ke lapangan di sekitar masjid atau taman umum.
  10. Syalabi: Kuttab dipandang sebagai lembaga pendidikan dasar tertua  yang ada sebelum Islam yang digunakan untuk belajar tulis-baca.
  11. ketika Islam datang, kuttab mengalami perluasan fungsi. Ia bukan hanya untuk belajar tulis-baca, tapi juga untuk belajar al-Qur`an yang khusus bagi anak-anak.
  12. Stanton membagi Kuttab ke dalam dua bagian, yaitu kuttab pendidikan sekuler yang mengajarkan ilmu-ilmu non-agama; dan kuttab pendidikan agama yang mengajarkan al-Qur`an. 
  13. Syalabi: Bangunan kuttab masih terbilang sangat sederhana. Ada yang berukuran kecil dan sempit yang dapat menampung beberapa murid saja, dan ada pula yang berukuran besar dan cukup luas sehingga dapat menampung banyak murid. Kuttab terus berkembang seiring perkembangan Islam. Dari yang pada mulanya hanya memiliki belasan murid, pada penghujung abad Pertama Hijrah, sudah dapat ditemukan beberapa kuttab yang memiliki ribuan murid. Bahkan sampai abad Pertengahan, di Kairo terdapat beberapa kuttab yang menyediakan tempat tinggal bagi murid-muridnya, dan sebagian lagi ada kuttab yang berafiliasi dengan lembaga pendidikan tinggi.
  14. Kurikulum kuttab tampak sederhana. Ia hanya mengajarkan tulis-baca, hapalan al-Qur`an dan pokok-pokok ajaran Islam. Pada masa pemerintahan Umar Ibn al-Khattab,  muncul ide pembaruan. Umar menginstruksikan agar anak-anak di kuttab juga diajarkan berenang, mengendarai kuda, memanah dan tatabahasa Arab. Instruksi Umar ini kiranya dapat dilaksanakan oleh para guru hanya pada beberapa kuttab yang memungkinkan. Berenang misalnya, hanya dapat dilaksanakan di kuttab-kuttab yang terletak di pinggir sungai seperti Irak dan Mesir.
  15. Sistem belajar di kuttab dapat dikatakan masih cenderung bersifat individual. Menurut Makdisi, metode belajarnya tidak terlepas dari menghapal, mengulang, memahami, muzakarah dan mencatat.
  16. dengan metode ini, tradisi lisan (oral) telah berkembang sedemikian rupa  digunakan untuk menghapal al-Qur`an dan sebanyak mungkin materi-materi lain.
  17. Sistem belajar yang fokus pada upaya pengembangan tradisi lisan (oral) ini, telah menjadikan surat-surat pendek dan syair-syair Arab sebagai materi utamanya.
  18. Kendala-kendala yang dihadapi lembaga kuttab untuk mengembangkan tradisi tulis pada tahap awal ini adalah karena sastera al-Qur`an yang begitu tinggi, sehingga tidak dapat ditandingi; di samping bahasa Arab pada waktu itu belum mempunyai standar baku yang dapat digunakan sebagai patokan.



BAB IV PERKEMBANGAN KUTTAB


1. Kuttab di Jaman Rasulullah
Di Kuttab ini diajarkan baca tulis dengan teks dasar puisi-puisi Arab. Pengajaran Kuttab berlangsung di rumah para guru. Pasca muslimin hijrah ke Madinah, pendidikan model kuttab ini diberlakukan oleh Rasulullah dengan mengambil tempat di masjid dan rumah guru. Fungsi kuttab pun dibagi menjadi dua macam, pertama mengajarkan baca tulis dan kedua mengajar Al-Qur’an dan dasar-dasar agama Islam.

2. Kuttab di jaman Khulafaur rasyidin
Seperti halnya pada zaman Rasulullah yang memusatkan pendidikan di kuttab, maka begitu pula yang terjadi pada zaman Abu Bakar Sidiq. Kuttab tetap dipertahankan sebagai lembaga tempat belajar membaca dan menulis. Keberadaan kuttab seiring dengan pembangunan masjid, dan guru di Kuttab adalah para shahabat Rasulullah.

3. Kuttab di Zaman Umayyah
Sistem Kuttab yang mengajarkan membaca, menulis Al-Qur’an dan agama Islam lainnya tetap dilanjutkan pada zaman Umayyah. Hanya saja tempatnya selain di masjid dan rumah guru juga diselenggarakan di istana. Kuttab di istana bertujuan mengajarkan anak-anak dari keluarga yang berada di istana Khalifah. Guru istana dinamakan muaddib. Pendidikan istana mengajarkan Al-Qur’an, hadits, syair, riwayat hukama, menulis, membaca, dan adab sopan santun.



BAB V INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM PRA MADRASAH

Munculnya berbagai bentuk pendidikan Islam yang tersebar dan menjamur saat ini, tidak terlepas peran lembaga-lembaga pendidikan Islam pada masa kejayaan Islam (masa Rasulullah Saw, Al-Khulafa’ Al-Rashidin, Bani Ummayah, Bani Abbasiyah). Saat itu telah dikenal institusi pendidikan Islam, namun pelaksanaannya masih pada tempat yang sederhana. Lebih jauh lagi George Makdisi mengklasifikasikan institusi-institusi tersebut menjadi dua periode, yakni periode pra-madrasah dan periode pasca-madrasah. Periode pra-madrasah yaitu:
  1. Kuttab
Lembaga pendidikan dasar tempat mengajarkan baca tulis untuk anak-anak.

  1. Manazil al-‘Ulama’ (Rumah Kediaman para Ulama)
Kediaman para ulama dan ahli ilmu pengetahuan yang pernah digunakan sebagai forum kajian ilmiah, di antaranya adalah rumah Ibn Sina, al-Ghazali, Ali Ibn Muhammad al-Fasihi, Ya’qub Ibn Kilis, Abu Sulayman al-Sijistani, dan masih banyak lagi.

  1. Masjid dan Jami’
Ketika Rasulullah Saw, hijrah ke Madinah dengan semakin banyaknya pengikut Islam dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang perlu dikaji, fungsi awal rumah sebagai wahana pendidikan dialihkan ke masjid-masjid seperti masjid Nabawi dan Quba, yang dijadikan pusat bagi segala aktifitas pendidikan, kemasyarakatan kenegaraan dan keagamaan. Hal ini karena masjid dianggap sebagai institusi pendidikan yang merupakan instrumen yang pertama dan efektif untuk membantu transisi masyarakat Arab pada waktu itu, dari masyarakat primitif menjadi masyarakat yang lebih maju.

  1. Qusur (Pendidikan Rendah di Istana)
Pada tahap ini Pendidikan dikenalkan pada anak-anak di lingkungan Istana. Metode pendidikan dasar ini dirancang oleh orang tua murid agar selaras dengan tujuannya dan sesuai dengan minat dan kemampuan anaknya.

5. Hawanit al-Waraqin
Pada masa ini bermunculan toko-toko buku sebagai agen komersil dan sekaligus berfungsi sebagai center of learning. Ini berawal pada permulaan Daulah ‘Abbasiyah, yang kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai ibukota dan Negara-negara berbeda di negeri Islam.
Para pemilik toko-toko (warraqun) ada yang telah dapat menulis kitab-kitab monumental dengan karya-karyanya, diantaranya Ibn al-Nadim (995 M) yang menulis kitab Fihrisat (Indent of Nadim), Ali bin Isa yang menulis bermacam-macam kitab, dan Yaqut al-Hammi yang menulis Mu’jam al-Udaba, dan Mu’jam al-Buldam.

6. Al-Salunat al-‘Adabiyyah (Majelis Sastra)
Lembaga ini merupakan pengembangan dari majelis-majelis al-Khulafa’ al-Rashidin. Selain mengurus masalah-masalah pemerintahan, juga memberikan fatwa-fatwa agama melalui forum masjid ataupun diluar masjid.
Forum ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, karena sering diadakan semacam perlombaan syair dan perdebatan para fuqaha dan diskusi diantara para sarjana dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga muncullah tokoh-tokoh yang aktif hadir dalam forum tersebut :
a. Dari Kalangan Penyair: Abu Nuwas, Abu al-Itahiyah Da’bal, Muslim Ibn al-Walid dan al-Abbas al-Ahnaf.
b. Dari kalangan musisi, Ibrahim al-Mawali dan anaknya bernama Ishaq.
c. Dari kalangan ahli Gramatika: Abu ‘Ubaidah, al-Ismail al-Kisa’I, Ibn-Siman, al-Wa’iz dan al-Waraqid.

7. Maktabat (Perpustakaan)
Perpustakaan ini bersifat umum dan yang paling terkenal dimasanya diantaranya perpustakaan Iskandariyah dan Bait al-Hikmah (House of wisdom) pada masa daulah ‘Abbasiyah.
Pada perkembangan selanjutnya perputakaan telah menjadi salah satu pusat pendidikan dan kebudayaan Islam. Perpustakaan dipakai juga oleh ilmuan sebagai pusat researces akademik.

8. Al-Badiyah (Daerah Pedalaman)
Pada tahapan ini, banyak dari para pelajar yang sangat peduli akan orisinalitas kebahasaan mereka, dan memutuskan unutk pergi belajar bahasa ke ba’diyah (suku pedalaman/badui) bahkan banyak yang sampai menetap disana beberapa waktu demi pendalaman bahasa mereka.

9. Bimaristan dan Mustashfayat
Bimaristan dan Mustashfayat atau dikenal dengan lembaga rumah sakit, pertama kali dibangun oleh Abu Za’bal pada tahun 1825 M di Mesir. Dalam institusi ini, selain digunakan sebagai tempat penyembuhan orang sakit, juga di gunakan sebagai pusat pengajaran ilmu kesehatan. Institusi ini dikembangkan lagi pada masa pemerintahan Al-Walid Ibn Abd Malik pada tahun 1888 M dimana institusi ini telah memainkan peranannya yang sangat besar dalam sejarah perkembangan pendidikan Islam.



BAB VI PENUTUP
Kegiatan pendidikan pada masa pra-Islam berlangsung pada Kuttab-Kuttab dan pasar tradisional. Setelah datangnya Islam, berkembanglah lembaga-lembaga pendidikan Islam yang sangat mempengaruhi pendidikan di Arab.
Dengan mempelajari Lembaga Pendidikan di masa lalu, diharapkan agar bermanfaat bagi perkembangan Lembaga Pendidikan Islam pada masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar