Total Tayangan Halaman

Selasa, 20 Desember 2011

E. Penutup/Kesimpulan


Dari uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Dalam perkembangan pendidikan, dikenal beberapa aliran filsafat pendidikan yang dikembangkan di Barat. Diantara aliran filsafat tersebut, adalah aliran Empi­risme dan Nativisme, yang mempunyai pandangan yang sangat kontradiktif. Aliran Empirisme berpandangan bahwa pengetahuan yang didapat manusia, merupakan hasil dari pengalaman dan pendidikan yang diperoleh manusia tersebut. Oleh karena itu, semakin kuat dan luas penga­ruh dari pengalaman dan pendidikan, semakin kuat dan luas pula pengetahuan yang didapatkannya. Dengan demi­kian menurut aliran filsafat ini, faktor ekstern yaitu pendidikan dan pengalaman, merupakan factor penentu bagi pengatahuan manusia. Sedangkan aliran filsafat Nativisme berpandangan sebaliknya. Menurut aliran ini, faktor ekstern tidaklah merupakan faktor penentu, melainkan potensi manusia itu sendirilah yang menjadi faktor penentu. Faktor ekstern hanyalah merupakan media "stimulus" bagi berkembanganya pengetahuan manusia.

2.      Menurut filsafat pendidikan Islam, pandangan Empirisme dan Nativisme, merupakan pandangan yang sepihak karena berdiri di satu sisi yang sangat penting bagi manusia. Lebih lanjut, kedua aspek itu merupakan kombinasi yang tidak terpisahkan, integral, bukanlah hal yang secara esensial terpisah. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam, jelas-jelas kontradiksi secara konseptual dengan kedua aliran tersebut. Kontradiksi atau dikotomi antara filsafat pendidikan Islam di satu sisi, dengan aliran Empirisme dan Nati­visme di pihak lain, selain dipengaruhi oleh asal pijakan yang secara konseptual berbeda, juga dipenga­ruhi oleh perkembangan sejarah. Filsafat pendidikan Islam berkembang di atas paradigma yang integral, sedangkan aliran Empirisme dan Nativisme, berkembang di atas pijakan bipolasi dan dikotomi agama Kristen dan filsafat, serta sekularisasi filsafat dan ilmu pengeta­huan Islam di Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar