Total Tayangan Laman

Kamis, 22 Desember 2011

Aliran-Aliran Ilmu Kalam I

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Teologi sebagaimana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang ingin menyelami seluk-beluk agamanya secara mendalam perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Dalam islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi, diantaranya yaitu aliran khawarij, murji’ah, mu’tazilah dan lain-lain. Maka dari itu dalam makalah ini akan membahas sejarah timbulnya aliran-aliran teologi dalam Islam.

B.       Rumusan Masalah
Dalam makalah ini ada beberapa hal yang menajdi pokok permasalahanya yaitu :
1.         Bagaimana latar belakang timbulnya aliran-aliran dalam ilmu kalam ?
2.         Aliran-Aliran apa saja yang timbul dalam persoalan ilmu kalam ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Timbulnya Aliran-aliran teologi dalam Islam
Aliran-aliran dalam teologi Islam ini muncul setelah wafatnya Rasulullah Huhammad SAW, karena begitu sentralnya tokoh seorang pribadi Muhammad SAW disamping sebagai Nabi, Rasul Beliau juga seorang kepala Negara dan kepala pemerintahan, ahli Negara (Negarawan), sehingga ketika Beliau wafat masyarakat madinah sibuk memikirkan pengganti Beliau untuk mengepalai Negara yang baru lahir itu. Sampai hal ini mengganggu prosesi pemakaman beliau dan mengganggap pemakaman Nabi merupakan soal kedua bagi mereka waktu itu. Selanjutnya muncul persoalan 'Khilafah' soal pengganti Nabi Muhammad sebagai kepala Negara.
Sejarah mencatat bahwa Abu Bakar lah yang disetujui oleh masyarakat islam diwaktu itu untuk menjadi Khalifah pertama (pengganti Rasul). Kemudian Abu Bakar digantikan oleh Umar Ibn al-Khattab dan Umar tergantikan oleh Usman Ibn Affan. Usman termasuk dalam gotongan pedagang Quraisy yang kaya, kaum keluarganya dari golongan masyarakat aristocrat/bangsawan Mekkah yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang dagang, admistrasi. Pengetahuan mereka ini sangat bermanfaat dalam memimpin administrasi daerah-daerah diluar Semenanjung Arabia yang masuk dibawanh kekuasaan Islam.
Ahli sejarah menggambarkan Usman sebagai orang yang lemah dan tak sanggup mementang ambisi kaum keluarganya yang kaya dan berpengaruh itu. Tindakan -tindakan politik yang dilakukan Usman kerap kali mengangkat mereka (kerabat keluarganya) menjadi Gubernur-gubernur di daerah yang tunduk kepada kekeuasaan Islam. Selanjutnya perasaan tidak senang muncul di daerah akibat dari tindakan politik yang dilakukan Usman ini. Di Mesir sebagai reaksi dijatuhkannya Umar Ibn al-Khattab yang digantikan oleh Abdullah Ibn Sa'd Ibn abi Sarh salah satu anggota kerabat keluarga Usman sebagai Gubemur mesir. 500 pemberontak berkumpul dan kemudian bergerak ke Madinah.
Perkembangan di Madinah selanjutnya membawa persoalan pada pembunuhan Usman oleh pemuka-pemuka pemberontakan dari mesir ini. Setelah Usman wafat Ali Ibn Abu Thalib sebagai calon terkuat menjadi khalifah ke-empat. Tetapi segera setelah memimpin ia mendapat tantangan dari pemuka-pemuka yang ingin pula menjadi Khalifah terutama Talhah dan Zubeir dari Mekkah yang mendapat sokongan, dorongan dari Aisyah ra. Tantangan dari Aisyah, Talhah, Zubeir ini dipatahkan Ali dalam pertempuran yang terjadi di Irak di tahun 656 H. Talhah dan Zubeir mati terbunuh dalam pertempuran ini dan Aisyah dikirim kembali ke Mekkah.
Tantangan kedua datang dari Muawwiyah. Gubemur Damaskus dan keluarga yang dekat dengan Usman sebagaimana halnya Talhah dan Zubeir mereka tidak mau mengakui Ali Ibn Thallib sebagai Khalifah. la menuntut kepada Ali agar menghukum pembunuh-pembunuh Usman, bahkan ia menuntut Ali turut andil dalam pembunuhan itu.
Dalam pertempuran ini (Perang Siffin) tentara Ali dapat mendesak tertara Muawwiyah. Namun tangan kanan Muawwiyah Amr Ibn ash yang terkenal sebagai orang licik minta berdamai dengan mengangkat al-quran ke atas. Qurra yang ada di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawaran itu dan dicarilah perdamaian dengan mengadakan Arbitrase (Tahkim). Sebagai perantara/utusan diangkatlah orang-orang kepercayaan yakni: Amr bin Ash dari pihak Muawwiyah dan Abu Musa al Ash’arydari pihak Ali.

B.       Aliran – Aliran Yang Timbul Dalam Persoalan Ilmu Kalam
Dari sekian banyak aliran kalam (teologi) yang berkembang di masa kejayaan peradaban Islam, seperti Syiah, Khawarij, Muktazilah, Murjiah, Kadariyah, Jabbariyah, Asy'ariyah, Maturudiyah, Ahlussunah dan sebagainya, hingga saat ini hanya dua aliran yang masih memiliki banyak pengikut. Kedua aliran itu adalah Ahlussunnah wal Jamaah (biasa disebut dengan kelompok Sunni) dan Syiah.
1.         Aliran Syiah
Syiah yaitu kelompok muslim yang mengatakan bahwa Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra. adalah orang yang berhak mewarisi kedudukan khalifah dari pada darpada Sayyidina Usman Ibn Affan ra. dan tokoh-tokoh lainnya.
Sekte dalam syiah adalah syiah Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah. Adapun inti pemikiran Syiah adalah sebagai berikut:
a.       Konsep Tauhid
b.      Konsep Imamah
c.       Konsep Bada’
d.      Konsep Taqiyyah
e.       Konsep Roj’ah
f.       Nikah Mut’ah
g.      Al-Qur’an dan Sy’iah
2.         Aliran Khawarij
Aliran khawarij menyatakan bahwa orang berdosa besar adalah kafir, dalam arti keluar dari islam atau tegasnya murtad dan oleh karena itu ia wajib dibunuh. Kaum khawarij terdiri atas pengikut Ali bin Abi tholib yang meninggalkan barisanya, karena tidak setuju dengan sikap Ali bin Abi Thalib dalam menerima arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khalifah dengan mu’awiyah ibn Abi Sufyan.
3.         Aliran Murji’ah
Aliran murji’ah menegaskan bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang dilakukannya, terserah kepada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak mengampuninya. Kaum khawarij pada mulanya adalah penyokong Ali. Tetapi kemudian berbalik kepada musuhnya. Karena adanya perlawanan ini, penyokong-penyokong yang tetap setia padanya bertambah keras dan kuat membelanya dan akhirnya mereka merupakan satu golongan lain dalam islam yang dikenal dengan nama Syi’ah.
4.         Aliran Mu’tazilah
Aliran mu’tazilah tidak menerima pendapat-pendapat diatas. Bagi mereka orang yang berdosa besar bukan kafir tetapi bukan pula mukmin, mereka mengambil posisi diantara posisi mukmin dan kafir yang dalam bahasa arabnya dikenal dengan istilah almanzilah bainal manzilatain ( posisi diantara keduanya). Kaum mu’tazilah adalah golongan-golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih mendalam dan bersifat filosofis dari pada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khawarij dan murji’ah.
5.         Aliran Qadariyah
Aliran ini merupakan aliran yang suka mendahulukan akal dan pikiran dari pada prinsip ajaran Al-Qur’an dan hadits sendiri. Al-Qur’an dan Hadits mereka tafsirkan berdasarkan logika semata-mata. Padahal kita tahu bahwa logika itu tidak bisa menjamin seluruh kebenaran, sebab logika itu hanya jalan pikiran yang menyerap hasil tangkapan panca indera yang serba terbatas kemampuannya. Jadi seharusnya logika dan akal pikiranlah yang harus tunduk kepada Al-Qura’n dan Hadits, bukan sebaliknya
Dalam pembahasan mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama “kaum rasionalis islam”.Menurut Al-Baqdadi, dan temanya amr ibn ubaid diusir oleh Hasan al Basri dari majlisnya karena adanya pertikaian antar mereka mengenai persoalan Qodar dan orang yang berdosa besar, keduanya menjauhkan diri dari Hasan al Basri dan mereka serta pengikut-pengikutnya disebut kaum mu’tazilah, karena mereka menjauhkan diri dari paham umat islam tentang soal orang yang berdosa besar. Menurut mereka orang serupa ini tidak mukmin dan tidak pula kafir.
Demikian keterangan al-baqdadi tentang pemberian nama mu’tazilah kepada golongan itu. Dalam pada itu timbul pula dalam islam dua aliran dalam teologi yang dikenal dengan nama Al-Qodariyah dan Al-Jabariyah.
Menurut Qodariyah manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dari perbuatanya. Dalam istilah inggrisnya freewill dan free act.
6.         Aliran Jabariyah
Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam semua tingkah lakunya menurut paham Jabariyah,bertindak dengan paksaan Tuhan, segala gerak-gerik manusia ditentukan olehTuhan.
Selanjutnya, yang menjadi dasar yang sejajar dengan pemahaman pada aliran jabariyah ini dijelaskan Al-Qur’an diantaranya :
Dalam surat Ash-Shaaffat ayat 96 :
ª!$#ur ö/ä3s)n=s{ $tBur tbqè=yJ÷ès? ÇÒÏÈ  
 “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

7.         Asy'ariyah dan Maturudiyah (Ahlussunah Wal Jamaah)
Ahlussunnah berarti penganut atau pengikut sunnah Nabi Muhammad SAW, dan jemaah berarti sahabat nabi. Jadi Ahlussunnah wal jama’ah mengandung arti “penganut Sunnah (ittikad) nabi dan para sahabat beliau.
Aliran Asy’ariyah didirikan oleh Abu al-Hasan Al-Asyari sedangkan aliran Maturudiyah didirikan oleh Abu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-Maturudi dari Samarkand.
Pokok-pokok pemikiran Abu al-Hasan Al-Asyari
a.         Sifat-sifat Tuhan. Menurutnya, Tuhan memiliki sifat sebagaiman di sebut di dalam Alqur’an, yang di sebut sebagai sifat-sifat yang azali, Qadim, dan berdiri diatas zat tuhan. Sifat-sifat itu bukanlah zat tuhan dan bukan pula lain dari zatnya.
b.        Al-Qur’an, Manurutnya, al-Quran adalah qadim dan bukan makhluk diciptakan.
c.         Melihat Tuhan, menurutnya, Tuhan dapat dilihat dengan mata oleh manusia di akhirat nanti.
d.        Perbuatan Manusia. Menurutnya, perbuatan manusia di ciptakan tuhan, bukan di ciptakan oleh manusia itu sendiri.
e.         Antrophomorphisme
f.         Keadlian Tuhan, Menurutnya, tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di akhirat. Sebab semua itu marupakan kehendak mutlak tuhan sebab tuhan maha kuasa atas segalanya.
g.        Muslim yang berbuat dosa. Menurutnya, yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat diakhir hidupnya tidaklah kafir dan tetap mukmin.
Sedangkan pokok-pokok pemikiran Abu Mansur Muhammad Ibn Muhammad Ibn Mahmud al-Maturudi :
a.         Sifat Tuhan. Pendapatnya sejalan dengan al Asy’ari
b.        Perbuatan Manusia. Menurtnya, Perbuatan manusia sebenarnya di wujudkan oleh manusia itu sendiri, dan bukan merupakan perbuatan tuhan.
c.         Al Quran. Pendapatnya sejalan dengan al Asy’ari
d.        Kewajiban Tuhan. Menurutnya, tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
e.         Muslim yang berbuat dosa. Pendapatnya sejalan dengan al Asy’ari
f.         Janji tuhan. Menurutnya, janji pahala dan siksa mesti terjadi, dan itu merupakan janji tuhan yang tidak mungkin di pungkirinya.
g.        Antrophomorphisme (menjisimkan Tuhan).




BAB III

PENUTUP



Timbulnya aliran-aliran teologi dalam islam disebabkan karena masalah kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Serta pertikaian antara Muawiyyah dan Ali setelah terjadinya pembunuhan khalifah ketiga Usman Bin Affan. Dari pertikaian tersebut timbul aliran-aliran yang merupakan pengikut dari kelompok Ali dan Muawiyyah.

Aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam islam ialah Aliran Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah tidak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah, yang masih ada sampai sekarang adalah Aliran Asy’ariah dan Maturidiah dan keduanya disebut Ahl Sunnah wa al Jama’ah.

Yang melatar belakangi timbulnya aliran-aliran ilmu kalam yaitu dalam bidang politik, bukan dalam bidang teologi tetapi persoalan ini segera meningkat menjadi persoalan teologi.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik, ed. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jilid 3. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003, cet. ke-3. 
Aceh, Abubakar. Perbandingan Mazhab Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam. Solo: Ramadhani, t.t.
Al-Hafni, Abdul Mun’im. Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, terj. Muchtarom. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006, cet. ke-1.
Al-Nemr, Abdul Mun’eim. Sejarah dan Dokumen-dokumen Syi’ah. T.tp.: Yayasan Alumni Timur Tengah, 1988.
Ayoub, Mahmoud M. The Crisis of Muslim History: Akar-akar Krisis Politik dalam Sejarah Muslim, terj. Munir A. Mu’in. Bandung: Mizan Pustaka, 2004, cet. ke-1.
Karya, Soekama, dkk. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996, cet. ke-1.
Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ensiklopedi Islam Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1992.
Sou’yb, Joesoef. Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran-aliran Sekta Syi’ah. Jakarta: Pustaka Alhusna, 1982, cet. ke-1.
Sulaeman, Filsafat Islam. Kuningan : Mayasih press. 2010.
Syari’ati, Ali. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, terj. M.S. Nasrulloh dan Afif Muhammad. Bandung: Mizan Pustaka, 1995, cet. ke-2.
Syirazi, Nashir Makarim. Inilah Aqidah Syi’ah, terj. Umar Shahab. Jakarta: Penerbit Al-Huda, 1423 H, cet. ke-2.
Zainuddin, A. Rahman dan M. Hamdan Basyar, ed. Syi’ah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian. Bandung: Mizan, 2000, cet. ke-1.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar